sasmita


Pak Din
January 28, 2009, 11:27 pm
Filed under: Uncategorized

Akhirnya saya lulus dan datanglah upacara itu. Wisuda kawan, wisuda. Wisuda berarti menghadapi tetek bengek yang sama sekali tidak esensial karena tanpa wisuda pun saya sudah lulus. It’s the ceremony thing. Wisuda sebenarnya bagi saya lebih berarti hajatan untuk membanggakan orang tua secara seremonial dan sekalian ibu dan bapak akan datang ke Jogjakarta. Maklum selama empat tahun di sini belum sekalipun disambangi keluarga.

Sedihnya, ibu saya terancam tidak bisa datang karena masih menunggu jadwal diklat untuk sertifikasi guru. Jadwalnya masih belum jelas dan bisa saja diumumkan beberapa hari sebelum hari wisuda saya. Jadilah saya gregetan menunggu dan berdoa tiap hari sembari mempersiapkan diri untuk kecewa ibu saya tak bisa datang. Buat ibu saya yang guru sertifikasi itu penting. Dengan sertifikasi itu ibu saya diakui secara profesional sebagai tenaga pendidik juga diakui dan diberikan hak-haknya terutama tunjangan profesi yang besarnya sama dengan gaji pokok.

Sebenarnya guru harusnya tak perlu menunggu dan melewati proses sertifikasi untuk mendapatkan pengakuan profesionalitasnya dan kontra prestasi yang selayaknya. Ibu saya termasuk beruntung, dia masih punya akses untuk mengikuti diklat sertifikasi. Dia juga beruntung menyandang gelar strata satu sehingga lebih mudah untuk mengikuti proses sertifikasi. Namun kemudian benak saya melayang ke ratusan mungkin ribuan guru yang hanya lulusan SPG (setara D3) atau malah hanya lulusan SMP dan SMA. Beberapa dari mereka ceritanya terdengar melalui media. Miris melihat masih banyak pengajar yang bisa dibilang “mendadak guru” karena keterpaksaan keadaan. Sebuah potret pendidikan Indonesia yang carut marut. Ironis karena sering kali guru-guru dadakan yang mengajar karena keprihatinan ini justru lebih memiliki dedikasi daripada yang menyandang gelar-gelar keprofesionalan. Sulit membayangkan guru di pedalaman hutan Tapanuli yang aslinya adalah penjaga sekolah mendapatkan sertifikat pengakuan profesionalitasnya. Sementara itu begitu banyak guru terutama  terutama sekolah negeri yang mapan di kota sebenarnya dedikasi dan profesionalitasnya perlu dipertanyakan dengan mudah mendapatkan sertifikasi. Tak bisa mengajar mungkin, tapi tak mau mengajar, seringkali ya.

Akan tetapi, cerita guru di Indonesia bukanlah sesederhana guru hitam dan guru putih. Ada guru abu-abu yang berdiri di tengah pragmatisme hidup dan dedikasi profesi. Mereka berjalan dengan mengkompromikan kedua hal tersebut. Seberapa condong mereka ke satu sisi itu relatif dan kembali ke interpretasi orang yang melihat.

Adalah Pak Din guru agama saya sewaktu SMA. Dia adalah guru yang paling intens berinteraksi dengan saya maklum saya gini-gini dulu sekretaris Persekutuan Pelajar Kristen di sekolah negeri yang paling bergengsi (karena banyaknya anak pejabat di sekolah saya) dan paling kacau balau di Medan(juga karena banyak anak pejabat). Dia juga adalah guru yang paling saya benci, yang saya paling tidak hormati di antara banyak guru lain yang saya juga tidak hormati (dulu saya arogan sekali tapi believe me I had good reasons for that). Bagi saya dia adalah simbol ketidakbecusan guru dan sekolah saya. Guru agama kok korup, kok mengeksploitasi murid, kok makan kas organisasi, dan kok kok lain.

Pak Din seringkali menggelapkan sejumlah dana yang dipasrahkan kepadanya. Tak ada rincian pengeluaran dan tak pernah bersisa. Padahal itu uang rakyat, persembahan anak-anak yang mengikuti ibadah. Pak Din juga acap kali mengeksploitasi organisasi kami demi mendapatkan rupiah. Pernah ketika kami akan mengadakan retreat dia memaksa kami menganggarkan dana untuk honorarium dia sebagai pendamping sebesar 500.000 atau dia tidakakan membubuhkan tanda tangannya sebagai pembina. Lima ratus ribu tidak sedikit mengingat selama empat hari tiga malam, dia tidak ada di retreat kami.

Saya kesal, ingin berontak dan sekaligus tidak berdaya. Semakin sering saya berinteraksi dengannya semakin saya kehilangan respect dan semakin saya membencinya. Saya lalu bandingkan ibu saya yang juga mengajar setingkat SMA. Dia tidak pernah memakan uang apalagi memanipulasi apapun untuk uang. Seringkali dia harus mengutang kepada salah satu paman pengusaha toko buku untuk asupan buku bagi murid-muridnya. Saya ingat pernah suatu hari ibu saya yang hamil tua pulang naik becak membawa setumpuk buku-buku yang diikat tali. Buku-buku itu dari toko paman saya yang karena ikatan saudara memberi potongan harga yang lumayan. Sebenarnya buku itu tersedia di sekolah tapi harganya lebih mahal (which is confusing me) jadinya ibu saya mencari alternatif cara lebih murah menghadirkan buku untuk murid-muridnya. Buku itu akan dicicil oleh muridnya selama satu tahun ajaran tapi akhirnya selalu sam, hanya dua puluh persen dari muridnya yang akan membayar buku itu lunas di akhir tahun ajaran.

Saya ceritakan Pak Din ke ibu saya, berharap ibu  menyetujui dan kami bisa sama-sama mengutuki pak guru saya itu. Alih-alih mengiyakan saya dan membandingkan dirinya dengan Pak Din, ibu malah menegur saya. Hidup guru itu susah, katanya. Gajinya sedikit sekali tapi tuntutannya tinggi. Ibu saya menganalogikan gaji guru setara dengan gaji kondektur bis tapi dia harus rajin beli safari dan buku, makan di kantin yang lumayan mahal, belum lagi lipstik dan sebagainya, sementara kondektur bis tak perlu baju bagus dan buku. Guru berjuang dalam wadah yang juga menjual image dan citra pada tingkat tertentu dan tentu saja membangun citra perlu biaya.

Mendengar penjelasan ibu, saya lalu menelusuri riwayat Pak Din. Ayahnya juga seorang guru agama jadi rasanya profesi dia sebagai guru bisa jadi paksaan dari ayahnya. Sewaktu saya kelas tiga, Pak Din baru saja diterima sebagai guru tetap berpangkat IID, sebelumnya bertahun-tahun dia hanyalah guru honorer. Anaknya dua orang yang mungkin lahir dari pertimbangan ekonomis sementara itu istrinya seorang ibu rumah tangga. Ketika saya bertandang ke rumahnya, saya semakin terenyuh. Rumah Pak Din kecil dan sempit. Anaknya yang juga adik kelas saya menempati ruang kecil yang disekat triplek sedangkan dia, istrinya dan anak perempuannya tidur di satu kamar yang kecil. Menurut pengakuan teman yang dekat dengannya, Pak Din tak pernah mengundang rekan-rekan gurunya datang ke rumah. Namun sebaliknya dia menyesalkan sedikitnya anak muridnya yang berkunjung ke rumahnya. Mungkin hanya di depan muridnya dia sedikit bisa tampil apa adanya atau mungkin itu suatu bentuk penghargaan murid yang dia harapkan?

Perlahan-lahan seiring kedewasaan saya, saya mulai memahami sikap Pak Din yang pragmatis dan opportunis. Saya juga tidak protes ketika ibu saya menyelipkan uang lima puluh ribu ke kantong Pak Din karena sudah menunggui proses ijazah saya. Saya juga tetap ingat permintaannya untuk membelikan istrinya daster dan saya menolak uang penggantinya.

Kehidupan kadang kali tak sesederhana yang kita bayangkan. Saya percaya ada begitu banyak jawaban dan alasan untuk pertanyaan kecil yang kita ajukan.  Bagi saya Pak Din adalah cermin proses pelapangan batin untuk pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tak saya harapkan. Pak Din adalah cerita pergulatan seorang guru dalam hidupnya karena saya yakin alasan utama perilakunya karean dia juga ingin melihat anak-anaknya lebih baik dari dia, melihat anaknya memakai toga di podium ITB sana.



Guilt
December 23, 2008, 3:16 am
Filed under: Uncategorized

pernah merasa ga bisa menulis selain one very topic?

that’s what i feel now

Guilt

rasa bersalah, satu lagi dimensi perasaan manusia yang punya efek destruksi yang besar. Dia melingkupimu dengan hebatnya dan merasuk tulangmu, menghancurkan semua sendi tubuhmu. Rasa bersalah yang dahsyat membuatmu tak bisa memaafkan diri sendiri meskipun kau tau kau sudah dimaafkan. Jadi sebenarnya kau bersalah kepada siapa?

Manusia dengan segala egonya berusaha mengkalkulasikan bahkan hal-hal yang tak perlu dikalkulasikan. Ego dan pride mendorong manusia untuk merumuskan postulat bodoh kepantasan. Berapa sering kita berkata,”Pantas saja dia kan seperti…” atau “Dia itu sama sekali ga pantas buat jabatan itu” atau “Enak aja dia gituin aku. Emang aku pantas…” atau lebih sederhana,” Kita kan udah bayar… Masa pelayanannya seperti ini!!” dan pantas pantas yang lain.

Setiap hari kita mengusahakan tubuh dan pikiran kita untuk menjadi pantas. Pantas untuk indeks prestasi tinggi, pantas untuk pasangan yang berkualitas yang bisa main biola dan bola, pantas untuk pekerjaan dan perlakuan yang sepantasnya (mengulang kata pantas). Kita ribut dan jengkel ketika kita menganggap orang lain tidak memperlakukan kita dengan sepantasnya apalagi kalo misalnya kita punya sumber daya uang, kecantikan, kuasa, posisi, kecerdasan apapun bentuknya. Kita sewot ketika seseorang yang kita anggap tidak pantas mendapatkan hal yang baik.

Ketika saya bergumul dengan rasa bersalah saya semakin merenungkan kenapa saya sulit mengampuni diri sendiri. Mungkin jawabannya karena saya merasa tidak pantas diampuni. Saya ingin merasa pantas diampuni baru saya bisa menerimanya. Saya harus sejajar dengan orang mengampuni saya, saya harus punya sumber daya yang membuat saya memang pantas dimaafkan. Hasilnya saya berusaha sekuat tenaga mencari pembenaran kesalahan saya, atau lebih buruk saya menghukum diri saya sendiri sehingga saya pantas dimaafkan.

Pantaskah saya dimaafkan? Sejauh apapun saya mencari dan berjuang jawabannya tetap saja: TIDAK. Saya memang tidak pantas dimaafkan. Karena itulah disebut dimaafkan. Ada jurang antara yang dimaafkan dan si pemberi maaf dan hanya bisa dijembatani ketika si pemberi maaf mengulurkan tangannya dan yang dimaafkan menjawab dengan menerima uluran itu (atau sebaliknya). Tentu ada ketimpangan di sini tapi itulah… yang tak pantas mendapatkan hal yang baik. Di sini si penerima butuh kerendahan hati bukan hanya si pemberi.

Sekali lagi merenungkannya… saya berpikir dalam sepanjang kehidupan saya sebenarnya hal apa yang benar-benar pantas saya terima? I deserve nothing more than I get rather true, I deserve less indeed. Saya yang tak pantas mendapatkan maaf semudah itu pada kenyataannya diberi maaf. Sebelum saya menyadari bahwa tak ada yang bisa saya lakukan untuk membuat diri saya pantas menerima maaf saya tidak akan bisa mengampuni diri sendiri. Tidak ada usaha yang bisa… tidak akan ada.

Karena jika semua dihitung dengan kepantasan saya…

I earn not my life nor deserve it…



Karma
December 21, 2008, 4:21 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Kemarin seorang kawan bertanya percayakah aku karma?

Secara awam karma bisa diartikan setiap perbuatan akan kembali ke pada si empunya. Jadi perbuatan jahatmu akan kembali ke kamu lagi begitu pun perbuatan baik. Kalo pernah mencuri pasti nanti bakal kecurian.

Jawabanku adalah aku berusaha untuk tidak percaya karma. Aku percaya apa yang ditabur itu yang dituai.

Apa bedanya?

Dalam karma kau mendapatkan kembali apa yang kau lempar ke luar. What goes around comes around. That plain, that simple. Sedang yang kupercaya cukup berbeda. Aku menabur benih mangga yang kutuai tentunya buah mangga.

Aku percaya ketika aku menabur sesuatu yang buruk aku  kemungkinan besar akan menuai hasil yang buruk.  Tapi aku menolak percaya itu sebuah hukuman Tuhan yang selalu pasti dan saklak.

Aku juga percaya kalo tiap manusia adalah petani, tak ada yang akan menabur ilalang. Katanya hanya untuk dibakar, ilalang itu. Beberapa akan menabur padi, apel, mangga, alpukat. Apapun yang berguna untuk kehidupan. Hanya tak selamanya petani-petani ini mencurahkan hatinya. Kita membiarkan benih itu membusuk dulu baru kita menanamnya. Kita biarkan dia mengering dan meradang hingga kita tergerak menimbunnya. Kita tanam di tempat yang gersang tak diperhatikan, tak dicurahkan kasih.

Aku ingat aku pernah menyakiti seseorang (sering sebenarnya and who didn’t anyway??). Aku belum menyaksikan hidupku seluruhnya untuk tahu apakah aku akan disakiti persis seperti aku menyakiti. Tapi aku telah menuai. Menuai perasaan bersalah. Overwhelming guilty.

Aku tak bisa katakan lebih baik disakiti seperti aku menyakiti daripada dikuasai rasa bersalah. Aku tak tahu sampai itu. Hanya aku tahu rasa bersalah punya dimensi buruk yang lain. Tak sanggup mengampuni diri sendiri adalah perasaan yang paling menyiksa yang pernah kualami.

Ketika kita menabur sesuatu, kita menuai sesuatu. Hanya kita tidak sendiri, benih itu pun tidak sendiri, ada ibu bumi yang merawatnya, langit yang menaunginya, hujan yang memandikannya, dan ada ilalang-ilalang, ada hama yang menginterupsi geliatnya. Maka ada cerita seorang petani yang menanam benih tidak unggul mendapat hasil gemilang dan sebaliknya menanam benih yang dijagokan malahan pulang dengan sedikit berkas.

As for me…

Aku masih akan menuai yang kutabur tadi. Aku percaya belum semua… (Aku tidak menabur pisang soalnya). Akan ada waktu-waktu aku masih harus memanen. Sekarang tergantung diriku, kemurahan Tuhan. Dia bekerja ketika aku mempercayakan benihku padanya. Sekalipun itu benih yang buruk.



kill the rose
December 21, 2008, 3:36 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

kill the rose

I was there
changing my skin
thought i’ve thrown away all the dirt
but oh good earth
i am still much filth now and then
the oxygen stab me
straight to the deepest of my wounded soul
i was there, naked
with my foolish rage
insufficient to cover my shame
though,
i stood and still i breathe and still i run
i run and run and run
to find the rose and kill it
oh good Lord
i’m killing myself

“I have been silly,” she said to him, at last. “I ask your forgiveness. Try to be happy…”

“Of course I love you,” the flower said to him. “It is my fault that you have not known it all the while. That is of no importance. But you — you have been just as foolish as I. Try to be happy… let the glass globe be. I don’t want it any more.”
“Don’t linger like this. You have decided to go away. Now go!”
For she did not want him to see her crying. She was such a proud flower…


Ode to Galaksi
September 20, 2008, 9:39 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , ,

Hari ini saya baru saja mengadakan perpisahan dengan teman-teman PA saya. Berbagai perasaan campur jadi satu. Memandangi wajah teman-teman saya satu per satu secara tidak sadar saya melakukan sedikit kilas balik perjalanan hidup dan sedikit demi sedikit ingatan akan teman-teman lawas itu hadir kembali. Yang hadir saat ini adalah teman-teman yg membuat saya menyesal hingga hari ini.
Yang pertama bernama Galaksi Bima Sakti. Ya… teman saya ini bernama persis tata surya yg kita diami ini. Anaknya kecil dan kurus, hitam dan dekil. Dia berasal dari keluarga yang miskin dan hancur. Dimarahi, diledek, dijauhi karena semua takut padanya. Kakaknya bahkan lebih menakutkan dari pada Galaksi.  Teman-teman yang dulu memperingati saya. “Eh, kau jangan mau dekat- dekat sama Galaksi. Dia itu bandal kali, abangnya aja katanya suka nyuri. Bapaknya pun katanya pencuri” Maklum dulu saya anak pindahan. Guru-guru pun selalu menganggap dia anak yang bermasalah dan alhasil dia selalu berada di urutan bawah ranking kelas

Jadilah saya dan Galaksi hampir tidak pernah bertegur sapa dan berbicara. Hal ini berlanjut hingga di kelas 4. Sewaktu kami di kelas 4, secara umum seluruh kelas mengalami suatu transformasi yang cukup besar, dan tentu saja Galaksi. Ada seorang guru baru yang mengajar kami di caturwulan kedua. Pak Sagala namanya. Orangnya tua dan beruban, perokok, suaranya serak serak seram dan memang menyeramkan. Hari pertama dia meminta sekretaris kelas menyiapkan tali plastik yg cukup keras sekitar 40 cm sebanyak dua buah. Olala… ternyata itulah senjata ampuh Pak Sagala. Saya ingat jelas tali itu berwarna oranye akhirnya dikenal dengan nama cambuk. Dengan cambuk ini Pak Sagala menghukum setiap anak yang nakal dan yang gagal mendapatkan angka 9 atau 10. Bayangkan betapa takut dan ciutnya nyali kami saat itu. Saya cukup beruntung karena saya tergolong pintar (zaman SD maaah…) karena itu hanya dua kali pedasnya cambukan Pak Sagala mendarat di betis saya.

Namun yang menarik dari beliau adalah perhatiannya pada Galaksi. Seorang anak yang tak pernah sekalipun diperhatikan oleh guru-guru yang lain. Saya tak pernah tahu mengapa dan bagaimana tiba-tiba Galaksi mendapat perhatian lebih. Pak Sagala acap kali berkata di depan kelas bahwa Galaksi anak yang pintar, yang bisa menyelesaikan soal matematika sulit dengan cepat, yang otaknya brillian seperti Habibie dan semacamnya. Uniknya saya yg cepat jealous dengan orang lain tak pernah merasa iri atau terancam dengan Galaksi. Bukan karena saya yakin dia tidak akan mampu menyaingi saya tapi karena saya tiba-tiba melihat Galaksi yang berbeda dari sebelumnya dari Galaksi yang muram, dekil dan bermasalah. berubah jadi anak yang menyenangkan, percaya diri, bersemangat, terbuka dan lebih sering senyum dan entah kenapa saya senaaaaaaaang sekali melihat dia yang seperti itu. Rasanya kadang saya ke sekolah dengan semangat ingin melihat Galaksi yang sudah berubah. Saya ingat sewaktu pembagian rapor seluruh kelas terpana melihat ranking Galaksi melompat dari peringkat 52 menjadi 13. Semua terpukau dan sejak saat itu pun sebagian teman kelas berubah menjadi lebih bersahabat walaupun tak sedikit yang merasa cemburu dan tersaingi.

Semua berjalan lancar hingga akhirnya di kelas enam keadaan berubah buat Galaksi. Dia mulai sering alpa sekolah. Nilai-nilainya melorot dan wajahnya kembali letih dan muram. Kelas enam caturwulan kedua ada kejadian yang mengejutkan bagi saya dan sungguh sangat membekas hingga sekarang. Kompleks rumah saya itu (yang hingga hari ini saya diami) selain bagian yang menghadap jalan dikelilingi sungai. Di seberang sungai bagian kiri komplek rumah Cengkeh dan Galaksi serta beberapa teman sekelas tinggal di situ. Suatu hari sekitar jam 7 menjelang maghrib tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah. Saya membuka pintu dan di situlah dia, Galaksi dengan setengah badan dari pinggang ke bawah basah kuyup, mengintip masuk ke dalam rumah saya.  “Heh Aci… kok…” hanya kata itu yang muncul dari mulut saya. “Boleh nyalin soal pe-er kemaren-kemaren ga?” jawabnya. Masih setengah tidak percaya saya mengangguk dan dengan cepat mengambil pe-er saya. Ibu saya dengan segera mengambil handuk dan menyuguhkan teh hangat. Dengan malu-malu dia menolak handuknya. “Ga papa tante, ntar juga basah lagi” jawabnya. Ya dia menyeberangi sungai untuk datang ke rumah saya dan menyalin pe-er.

Mengapa harus rumah saya… dan mengapa harus lewat sungai. Ada beberapa rumah teman yang sekomplek dengan rumahnya. Saya terlalu bangga untuk bertanya mengapa. Alasan yang terpikir hingga saat ini adalah karena dulu saya duduk di dekat tempat duduk di sewaktu kelas empat dan beberapa kali sempat berujar “Ayo Aci… pasti bisa ngerjain soal ini” atau “Aciii kereenn… pintar” dan semacamnya. Mungkin…

Tapi segera setelah itu Galaksi menghilang lagi terutama saat les sore yang disediakan guru. Pertemuan kedua saya yang membekas dengan Galaksi adalah ketika sepulang dari les. Saya bertemu dia dalam perjalanan menuju rumah sedang mendayung BPB (Becak Pengangkut Barang) berisi jerigen-jerigen minyak tanah. Saya tersentak dan sedih. Pemandangan itu sampai sekarang membekas di benak saya bahkan saya ingat saya memakai baju berwarna kuning muda saat itu. Tubuh kecih kurus dan ringkih seperti itu mendayung becak yang jauh jauh lebih besar dan berat dari dirinya di saat semua temannya dengan tekun belajar mempersiapkan diri untuk EBTANAS. “Aciii… kok ga les hari ini, kemaren-kemaren juga” saya bertanya spontan. “Psst jangan bilang siapa-siapa yah kalo aku kerja kek gini …” Rupanya dia malu…

Galaksi lulus SD dan berlanjut di sebuah SMP yang entah bagaimana kualitasnya. Kekurangan biaya dan orang tua yang tidak bertanggungjawab memaksa dia bekerja dari usia kecil. Saya prihatin sekaligus menyesal. Mengapa dulu saya tidak melakukan sesuatu… mengapa dulu saya tidak dari awal bersahabat dengan dia… mengapa dulu saya tidak melaporkan ke guru tentang dia yang bekerja… mengapa saya tidak melakukan sesuatu. Ingatan ketika dia dengan basah kuyup datang ke rumah hanya untuk menyalin pe-er mengintimidasi saya. Dia begitu bersemangat belajar… dia menemukan arti dirinya pada akhirnya di tumpukan angka-angka matematika itu. Baru saja dia terangkat dan merasa berharga, bernilai… dan ah baru saja saya melihat binar mata itu dan merasakan semangat itu. Mengapa begitu cepat dia harus berhadapan dengan realita hidup dan lagi…lagi… I should have done something… I could have done something!!! He could have been someone now!!!

Dimana dia, saya tak pernah tahu. Kabar terakhir yang saya tahu dia berhenti sekolah untuk bekerja entah dimana. Bukan karena saya tak bisa cari tahu tapi karena saya tidak ingin mengetahuinya, saya terlalu pengecut untuk menerima kenyataan yang terburuk dari seorang sahabat saya itu. Sekarang inilah penyesalan terbesar saya…Mengapa tak mencari tahu dari dulu… Mengapa tak perhatian dari dulu… Mengapa saya begitu pengecut… Mungkin dulu belum terlambat untuk melakukan sesuatu buat dia… Dan ah… sampai saat ini sejujurnya saya masih takut untuk melihat Galaksi terpuruk… teman saya yang brilian itu.

Galaksi Bima Sakti tempat bumi bernaung dengan keberadaannya, sistemnya, keteraturannya dan presisinya terus menampung lebih dari enam miliar penduduk bumi. Galaksi Bima Sakti sahabat kecilku dengan semua asa dan lika-liku hidupnya sekarang entah berada di mana di rimba Galaksi Bima Sakti yang akbar.



the meaning of happy
July 31, 2008, 9:26 pm
Filed under: Uncategorized

"Tapi kau bahagia, kan klak?"
Pertanyaan itu terus menganggu, mendesak utk dipikirkan dan dijawab. Mengapa harus bahagia, bukan senang; bukan gembira; bukan sukacita. Coba diartikan dengan level survival bahasa Jepangku: mengapa harus shiawase, bukan yorokobi; bukan tanoshii; bukan ureshii. Kalo bahasa Inggris malah lebih susah. Happy diartikan senang tapi happiness diartikan kebahagiaan. Glad lebih dekat dengan gembira sedangkan joy diterjemahkan menjadi sukacita.

Entah apapun motivasi Andre utk menanyakan pertanyaan itu. Mungkin dia jg memikirkan dalam arti kata bahagia atau mungkin saja dy memakainya secara spontan. Apapun itu, pertanyaan itu berimplikasi dua hal buatku.

Pertama; ketika itu ditanyakan oleh seorang Andre artinya itu ditanyakan oleh seorang teman lawas yg "only God knows" cerita apa saja yg sudah kami bagi bersama. Begitu banyak teman2 dulu yg terhanyut arus waktu, tapi entah kenapa yg satu ini selalu kembali dan kembali seperti dibawa ombak terus menerus ke tepi pantai. Lalu kenangan2 itu terbuka kembali seperti buku usang yg berdebu. Belajar dewasa… fiuuuh itukah yg aku lakukan hingga saat ini. Andrelah saksi matanya (minimal saksi telinga hehehe). Dy seperti monumen pengingat, prasasti dimana semua cerita2 cita, cinta, harapan, luka, tawa, mimpi, diukir. Kata2 aneh pun seperti bercahaya di antara kata2 yg tertulis. Blue, Mojo, Snuffles, Jakarta Undercover, Wanita Malam, The Hobbit, Little Prince, Aragorn, Lembu, Tikus, Pal, MakGon, MakBon, SushiTei, sampai John Rutter; all things bright and beautiful.

Pertanyaan itu menghentak karena datang dari seseorang yg blak-blakan dan pemilihan katanya cenderung peyoratif dengan tingkat estetika sastra yg rendah. Bahagia… apa aku kurang bahagia selama ini menurutmu, Dre? Hingga pertanyaan itu seperti melompat keluar tiba2 dari mulutmu. Pernahkah aku bahagia sepanjang yg kau ingat, Dre?
Pertanyaan itu membuatku tergerak (kandoushita), terharu dan merasa disayangi oleh suatu bentuk perhatian yg sederhana. Aku tahu itu benar sebenar janjinya utk melobi Resti dan Mangantar ketika waktuku tiba.

"Tapi kau bahagiakan, Klak?"
Apa itu bahagia? Kapan aku merasa bahagia? Dengan siapa, karena apa, dan mengapa?
Di dalam declaration of independence-nya US, ada satu poin yg memuat
kata ini. Yaitu hak untuk meraih kebahagiaan -Pursuit of Happiness-. Mengapa harus pursuit? mengapa tidak hak utk berbahagia? Apakah kebahagiaan adalah suatu hal yg hanya didapat dengan usaha dan perjuangan. Atau kita hanya bisa sampai ditahap meraih
tidak mendapatkan?

Karena takut bahwa the meaning of happy versiku udah bercampur aduk dengan versi dunia yang palsu, dalam hati aku bertanya2, seperti apakah arti kebahagiaan bagi orang2 di Alkitab, bagi Yesus, bagi Allah. Apakah Tuhan Yesus selama di bumi merasa bahagia? Kapan dan mengapa? Kalo tidak mengapa? Yesus menyebut beberapa orang berbahagia, tapi apakah Dia sendiri bahagia?

Pencarianku di Alkitab secara singkat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara theologis, akademis mengantarkanku bertemu dengan Lea, Daniel, Ayub, Daud, Salomo, Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Naomi dan Ruth, Ester, Hana, Maria, Petrus, Paulus dan Yesus. Semua memiliki pemikiran ttg kebahagiaan. Berbahagialah yg rendah hatinya, berbahagialah yang dosanya diampuni, berbahagialah orang yang dihajar Allah dan lain lain. Ayub memuat banyak sekali kata bahagia; tepatnya ratapan ttg kebahagiaan yg lenyap dan dirampas dan kita tahu bagaimana hebatnya penderitaan Ayub. Berbahagia berkaitan erat dengan hubungan dengan Tuhan.

Dari deretan nama2 itu juga terlihat banyaknya tokoh perempuan yg berkaitan dengan kata bahagia di antara sedikit tokoh perempuan yg tercantum di Alkitab. Lea, Hana, Ester, Ruth dan Naomi, Maria. Ester membahagiakan suaminya, rajanya. Lea dan Hana berbahagia karena terlepas dari tekanan ejekan dan karena rahimnya dibuka oleh Allah, Naomi berusaha membuat Ruth bahagia dengan mencarikan seorang suami utk menantunya dan Maria… ah semua tahu dy berbahagia karena kehendak Tuhan yg agung terjadi melalui dia secara langsung.
Dari deretan nama2 itu ada 4 orang yg mengklaim dirinya bahagia: Lea, Hana, Maria, dan Petrus. Mengapa dari 4 orang, 3 orang wanita? Mengapa hanya sedikit tokoh Alkitab mengklaim dirinya bahagia? Mengapa ketiga wanita yg menyebut dirinya ini berbahagia semuanya berhubungan dengan kelahiran seorang anak? Inikah kebahagiaan wanita? Atau apakah karena dgn melakukan sesuatu yg hanya dimiliki perempuan secara hakiki berarti melakukan kehendak Tuhan dalam hidup; alat rencana Allah dan dengan begitu merasa dirinya berbahagia.

Sejujurnya aku makin bingung…. hehehe. Bahagia oh bahagia…



dalam hidup
March 10, 2008, 10:52 pm
Filed under: Uncategorized

dalam nada hidup kau tarikan

dalam ragu hidup kau tanyai

dalam laku hidup kau jawab

dalam kata hidup kau alirkan

dalam sakit hidup kau hargai

dalam rasa hidup kau cicipi

dalam cita hidup kau bentuk

dalam gagal hidup kau resapi

dalam harap hidup kau pelihara

dalam doa hidup kau nafasi

dalam tangis hidup kau tantang

dalam tawa hidup kau terima

dalam warna hidup kau nikmati

dalam kasih hidup kau maknai

dalam iman hidup kau nyalakan

Dalam Dia kau hidup



Menari -1
March 10, 2008, 12:35 am
Filed under: Uncategorized

Aku ingin menari

Tarian apa aku tak mengerti. Aku hanya ingin bergerak seiring lonjakan-lonjakan energi yang ada di dalamku. Kadang perlahan, kadang cepat mengejutkan. Aku akan menari seperti gelembung air yang dididihkan. Muncul, menggelembung, lalu pecah menjadi butir-butir air kembali yang menggelegak dengan riuh. Atau seperti  kembang api. Bukan…bukan kembang api yang ramai, meluncur tinggi ke atas entah tergenjot energi apa, mekar seketika, sekali saja, padam lalu jatuh, hilang…Bukan seperti itu. Hanya kembang api kecil yang panjang, dihiasi percikan- percikan api yang menggigit genit. Nyalanya kecil dan redup seperti senyuman- senyuman kecil yang kau lihat setiap hari, jika kau mau mengamati. Seperti itulah tarianku. Semoga saja tangkaiku cukup panjang karena aku ingin terus menari. Seperti itu jugalah getaran- getaran yang kurasakan di seluruh tubuh. Layaknya percikan api yang menyala-nyala. Mungkin mirip aliran listrik kecil yang menyengat mulai ujung jariku, memompa luapan emosi,perasaan, -apalah sebut saja- ke dalam hati atau jantung -itu juga terserah-, menjaga suplai oksigen beredar hingga bisa terlihat mataku berbinar dan bibirku merah hidup.

Mengapa menari?
Kenapa tidak? Karena aku tidak menemukan alasan untuk tidak menari, tidak menemukan cara untuk menulikan telingaku dari melodi yang sayup-sayup kudengar, atau membekukan tubuhku yang mendesak menuruti nada-nada itu. Setiap hari, jam, menit, detik, setiap helaan nafas. Entah itu mataku tertutup atau tidak, tertidur atau bangun, aku ingin menari, karena cinta, karena kasih, karena afeksi, sayang -apapun kau namakan dia-, karena senyum- senyum yang kuterima, kulihat, kuresapi. Tegur sapa yang kudengar, entah itu untukku, atau buat wajah-wajah lain. Karena makanan yang lezat atau yang hambar sekalipun. Mungkin pagi ini karena aku bisa bangun pagi dan melihat matahar terbit, atau pagi lain (ups siang lain) aku terbangun ketika matahari telah berpose  tepat di atas kepalaku. Bisa saja karena jerawat yang tiba-tiba muncul atau good hair day. Teman- teman yang berbaring rapat berdesakan di kamarku pun bisa jadi alasan. Sama seperti malam- malam sendiri tertidur dengan posisi fetus setelah lelah menangis. Rumah yang hancur berantakan, pernikahan yang gagal, uang yang terlalu cepat pergi, cinta yang tertolak, lagu yang sedih, doa yang belum dijawab, perintah yang terlalu berat, pengorbanan yang kesepian, gempa bumi, luka yang berdarah, perpisahan, kata- kata dan kopi yang pahit. Diacuhkan, dikhianati, tiap tetes tangisan, oh… sebut saja tiap keping derita itu, dulu, sekarang dan nanti. Semuanya, akan menjadi saat- saat dimana aku akan membungkung rendah dalam tarianku. Tetapi tidak akan terjatuh karena telah, selalu dan akan ada tawa, senyum, coklat manis, diskon yang besar, teman yang mendengar, bunga yang mekar, doa yang dijawab, rumah yang tengah dipersiapkan, surat cinta zaman SMP, Tsumabuki yang cakep, langit yang biru, stiker yang konyol, udara yang hangat, mazmur yang menyegarkan, khotbah di bukit (kalau kau mau menyempatkan membaca). Bahkan di malam tak berbintang tak berbulan pun ada  lampu jalan yang menyala atau setidaknya kunang- kunang akan berhias diri, mungkin jangkrik akan berorkestra. Ooo dan ya…. setelah itu pasti akan selalu datang pagi!!!

Semuanya… semuanya adalah alasanku untuk menari, semua yang kulihat sekarang, kurasakan saat ini, semua yang juga telah kulupakan, atau yang tak pernah kudengar, kulihat, tak kuketahui. Semuanya, tidak separuhnya, bukan seperempat atau sepertiga tetapi seluruhnya. Walaupun gaungnya tak riuh, tak gaduh, entah bagaimana aku merasakan ritmenya. Sayup-sayup mendengar melodinya. Karena itu aku ingin terjun ke dalam musiknya, cinta, kasih. Karena cinta adalah mengalami.

Seutuhnya adalah cinta yang sederhana, namun tak putus, kasih yang setia yang tak berkesudahan. Dari mana? Aku tak bisa menunjuk satu sosok, atau wujud tetapi bukan berarti lahir dari ketiadaan, dari spontanitas. Dari Dia, wujud misteri yang menyelimuti bumi, menaungi semesta. Aku percaya Dia kusebut Tuhanku.
Untuk itulah ak menari, untuk merayakan Dia dan perbuatan-Nya, hari jadi-Nya yang seharusnya dirayakan bukan tiap tahun atau musim natal, tetapi di setiap helaan nafas yang kutarik dan kuhembuskan.



belanja oh belanja
January 28, 2008, 6:59 am
Filed under: Uncategorized

siapa sih ga suka belanja
bohong banget kalo dibilang ga suka belanja
belanja bukan terbatas pada sistem yang diterapkan oleh ibu-ibu dan beberapa remaja putri (didn’t my phrase sound like a host in cooking show) dan terbatas ama barang2 seperti sepatu, make-up, baju yang dikategorikan "ih lucu banget ya" sama mahluk2 teman hawa itu.
cowok yang beli pernak-pernik  komputer juga disebut belanja, sama dengan bapak-bapak yang nawar harga cerutu juga dibilang belanja.

tak terkecuali saya, yang mengalami dimensi baru belanja (fuih gila stressnya) di jepang.

tau kan di jepang harga barang2 itu bisa mencapai 8 x lipat harga di indonesia dan emang jepang khususnya tokyo itu salah satu kota yang biaya hidup paling tinggi. memang saya dikasih beasiswa, 80 rb yen sebulan (sekitar 6 juta sampe 6.4 juta rupiah) tapi jangan dikalkulasikan dengan rupiah dan biaya hidup di Indonesia. disini kalo makan diluar tuh minimal 700 yen (udah yang murah tuh) berarti sekitar 56rb rupiah di Indonesia. Nah lo pokoknya hentikan konversi deh kalo lagi membeli sesuatu disini.

pernah saya pengen beli boots di jepang alasannya karena dingin (emang sih membantu banget kalo pake boots) dan kedua ya gaya mumpung lagi di tokyo kan saya bisa bergaya dengan gaya yang ga pernah bisa saya bayangkan saya lakukan di Indonesia apalagi jogja (dan kenyataannya saya cukup puas setelah itu hwahahaha). nah budget sudah disusun saatnya belanja. eits tunggu dulu, saking takutnya saya bertempur di mal dan toko2 di tokyo (bertempur melawan keinginan utk membeli barang2 lain atau boots yang lebih mahal) sebelum pergi belanja saya berdoa dulu loh…
serius saya berdoa…. saya tahu kelemahan saya weleh weleh

jadi pergilah saya. menelusuri toko demi toko dan memasuki berbagai department store. policy saya sih, yah sama kayak sistem belanja ibu2 gitu, kelilingi dulu semuanya, coba bandingkan harganya, baru deh pilih!! (sistem yang melelahkan, dan sering mendatangkan komplain dari partner lelaki tapi secara logika sih tepat guna). o ya satu lagi policy jangan masuk ke toko yang sama sekali tidak berhubungan dengan target operasi belanja, dan jangan melirik apa lagi sampe mencoba boots yang harganya di atas budget!!! It’s a big no no…

awal petualangan saya sih ok…Langkah kaki ini terasa ringan langsung menuju ke counter sepatu. Tapi alamak, apa saya yang terlalu naif dan kampungan ya (bagai minah si gadis desa datang ke kota), boots itu harganya mahal banget!!! bahkan ada yang 7 x lipat budget saya. baiklah jangan menyerah, masih ada toko yang lain. beranjak ke toko yang lain, bah… sama saja!! Saya mulai putus asa, akankah saya menemukan sepasang boots yang cantik dan menawan (yang bisa membuat kaki saya terlihat seksi hehehe). Harapan pun mulai pudar (halllllah bahasanya ya). Ada sih yang murah tapi ituloh haknya (heels) tinggi banget trus runcing-runcing pula. Jangankan berlari, berdiri pake itu saya tidak mampu.

Kalo udah begitu, biasanya  mata ini pengen dimanja dan memaksa, ayo masuk masuk ke toko yang itu saja. Dan seakan bersahutan barang2 di toko-toko itu pun memanggil, ‘ayo hampirilah kami, cobalah kami, lihat betapa menariknya kami, ayuh ayuh atuh jangan malu malu, datanglah’. persis banget ama yang ada di novelnya Kyoji Kobayashi, mazelife. Novelnya keren banget. Mengkritik habis2an konsumerisme di Jepang yg udah kayak agama dan barang2 dijadikan Tuhan. Oh tidak!!! Apa itu berarti saya sudah seperti itu???

di Jepang ada banyak barang yang menarik utk dibeli bahkan yang kita ga pernah bayangkan ada. Eksistensi dan penampilan barang itu sendiri yang buat kita merasa membutuhkannya, kegunaanya sih ga gitu2 krusial. Jadinya setiap orang melihat jadi berpikir wah mungkin saya butuh ini, atau eh kayaknya ini bagus juga buat….atau wow unik ya beli ah jarang2 nemu barang kek gini… dst ..dst..

Misalnya aja nih ya, handphone. disini itu handphone murah banget asli, ga berharga malah tapi kalo beli pertama. Maksudnya kan disini semua pra bayar (bener ga sih) jadi ga pake voucher2an gitu. Nah harga handphone pertama beli itu cuma 1 yen tau!! saking murahnya saya beliin tuh 5 temen AIKOM hehehe. Tapi  istilahnya  biayanya kamu cicil per bulan sampe setahun gitu. Ga ngerti2 amat sistemnya tapi begitulah. Jadi dengan mudah kamu bisa punya beberapa hp dan gonta-ganti hp. SAma sih kayak di Indo tapi disini lebih dimungkinkan. Yg bikin heran ituloh, barang komplementer (yg ga komplement2 banget, -betul ga sih bahasa saya??) Ada aja yg bisa dibuat jadi aksesoris hp. Mulai dari gantungannya (bayangkan ada yg gantungannya bahkan lebih berat dari hp-nya ck…ck…ck…). Itu juga bervariasi, ada yg cuma buat dekorasi ada yg punya bantalan khusus atau apalah buat ngelap screen-nya. Weleh…weleh… Lalu ada stiker-stikeran buat dekorasi screen, ada cermin tempel jadi selagi ngesms bisa bercermin, terus case-nya. Belum lagi perlengkapan tambahan buat fitur2nya kayak fitur tv, radio, kamera (kameranya ada yang 5.1 mp loh). Subarashiiiiiii

Begitulah….. semuanya terasa penting apalagi kalo kamu melihat semua orang disekitarmu seperti itu, membeli ini dan itu. Pernah jalan2 ke toko lihat ada barang yg ga ngerti gunanya buat apa, kayaknya jadi dekorasi juga engga (well, semuanya sih karena level survival bhs jepang dan kanji saya). Bentuknya kayak s gitu tapi cuma itu doang ga ada apa-apa. Ternyata oh ternyata setelah beberapa lama saya melihat ada obaasan2 (nenek2) di densha (kereta listrik) yg mengeluarkan barang tersebut dari tasnya. tau buat apa? ayo tebak?? (kok kayak acara quiz anak2 ya -ayo tebak adik-adik!!??) itu buat gantungan payung di densha. Jadi kalo densha-nya padat dan kamu harus diri sementara tanganmu digunakan buat memegang grip, hayo payung taruh dimana, ya digantung aja pake gantungan S. Gantungan S-nya digantung di handle kursi densha terus payung anda digantung di bagian bawah S-nya. Bayangkan pemirsa betapa praktis dan bergunanya alat ini. Segera beli hanya 250 yen saja!!!

yah begitulah (kok kata2nya dari tadi ini terus). Lalu bgmn dengan boots saya. Akhirnya setelah capek bertempur dan nyatanya saya kalah juga. saya beli boots yang harganya diatas budget yang sudah disusun. karena pertama sudah lelah berkelana dari toko ke toko, kedua sok yakin pasti ga ada harga yang lebih rendah, ketiga ya tergoda modelnya. Namun oh oh, setelah perasaan ini ringan sedikit, saya menemukan sebuah toko yang tersembunyi (kenapa sih buat toko malu2 gini!!!) dan disitu boots saya dijual dgn harga yang lebih murah. Tidaaaaaaaaaaakkk. Langsung saya lari pulang…..

Inilah episode standar kehidupan belanja saya. Adegan yg tidak jauh berbeda terulang terlalu sering (saya memang bebal ya atau ternyata Gusti lebih sayang sama penjualnya - stupid guess :>). Tapi saya disini mulai berhemat kok bener !!! Alasannya sih maunya karena tidak mau terjebak arus konsumerisme Jepang!!! Tapi sebenarnya karena 1. uang saya pas2an banget kalo ga mau dibilang kurang
2. saya mau beli kamera dslr yg harganya  fuihhhhh!!!!!!!
ujung2nya saya mengurangi belanja karena belanja juga
well, life likes that

"duh…minah siapa suruh datang ke kota"!!!



paradoks???
January 14, 2008, 3:59 am
Filed under: Uncategorized

Dari dulu aku
diajarkan bahwa Yesus selama ada di dunia lebih dekat dengan orang-orang kecil
yang bodoh, penuh dosa, miskin, kampungan, kotor dan sebaliknya paling jauh
dengan orang-orang terhormat, cendekia, pintar, kaya, dan sebisa mungkin hidup
mengikuti aturan. Mendengar itu seringkali aku merasa takut dan khawatir. Bahwa
Yesus sendiri bersyukur kepada Bapa di surga karena semua hal yg ada
tersembunyi bagi orang-orang dengan status berkelakuan bersih dan baik menurut
hukum, orang-orang intelektual yg hidupnya nyaman tetapi dibukakan bagi orang
yg kecil, tak berdaya, bodoh dan jauh dari standar dunia. Apakah ini artinya
orang Kristen tidak boleh menjadi kaya, berkelimpahan, pintar (pikirkan berapa
banyak orang Kristen taat yang saat ini sedang berjuang mati-matian belajar di
perguruan tinggi, master, phd dan sebagainya), menjadi terhormat (dari ibu
menteri sampai bapak RT tetangga rumah) dalam masyarakat. Sering kali mengingat
hal ini aku langsung instropeksi diri habis-habisan dan akhirnya membohongi diri
sendiri supaya bisa mencocokkan dengan kategori orang yg dekat dengan Yesus
dulunya. Akhirnya yg terjadi aku hanya mengingat kegagalan akademikku agar
menenangkan hati bahwa aku orang bodoh. Aku menghitung barang mewah apa saja
yang belum kumiliki dan setengah mengarang kesusahan apa yg kualami karena
tidak memiliki barang-barang tersebut. Aku membandingkan fisikku dengan bilanglah
mariana renata (yang benar saja!!!) sebagai pembuktian aku tidak cantik. Aku
lalu mengenang setiap dosa yg membuatku terpuruk, setiap pikiran jelek yg
pernah terlintas, kesalahan yg menyakiti diri sendiri dan orang lain, perkataan
yg menyakitkan, hanya supaya meyakinkan
diri bahwa aku memang pendosa. Yang ada hanyalah aku menghancurkan citra diri
yang susah payah kubangun dengan dasar aku berharga, aku indah, aku baik di
mata Tuhan. Aku menyangkal kenyataan bahwa Tuhan memberi setiap orang termasuk aku
perbagai kemampuan yg tidak sama satu dengan yg lainnya. Bahwa aku memiliki
talenta yg tidak semua orang memilikinya, bahwa aku dianugerahi berbagai hal
yang tidak bisa dibilang kurang, jelek, kecil dan jauh dari standar dunia. Aku
bagaimanapun juga harus mengakui bahwa di hadapan dunia ada saat-saat dimana aku
bisa berdiri tegak menantangnya.

 

Ada

paradoks yang mengatakan bahwa di atas
langit ada langit, bahwa sepintar-pintarnya aku selalu ada yang lebih pintar,
sekaya-kayanya aku selalu ada yg lebih kaya. Tidak ada yang menentang hal itu
terutama yang percaya bahwa Tuhan ada. Tapi ide seperti itu sering kali
membuatku melihat ke atas mengukur berapa jauh posisiku dari puncak yang bisa kulihat
dan berapa jauh sudah aku mendaki. Ide itu membawaku pada pemikiran yang
linear, tegak lurus dengan langit sebagai puncak dan membuatku capek karena akan selalu ada
yang harus kukejar atau mengambil titik ekstrem lain, menyerah di posisiku dan
membiarkan orang mendahului ke puncak.

 

Bagiku menjadi
Kristen hampir selalu berarti hidup dalam paradoks. Kali ini paradoksnya adalah
aku berada di sisi standar dunia dan di sampingku ada Kristus dan teman-teman
kecilnya yg secara kasat mata kriterianya jauh dari aku. Aku tidak kelaparan,
tidak bodoh (walaupun mgkn kurang hikmat), aku bukan penjahat kelas kakap
(walaupun semua orang sudah berdosa di mata Tuhan), aku tidak mengalami
tantangan fisik (walaupun mendaftar dalam kontes kecantikan adalah lelucon
melihat penampilan fisikku), aku bukan sampah masyarakat dan lain sebagainya.
Pengertian aku hingga saat ini adalah aku harus berusaha berjalan meniti di
seutas tali dan mencoba tidak terjatuh ke bawah entah itu sebelah kanan dan
atau kiri. Untuk itu aku harus menyeimbangkan diri baik kiri dan kanan.

Susah

sekali, kadang aku berat di kanan dan kadang aku
berat di kiri. Namun justru keberadaan kiri dan kanan itulah yang membuat aku
still on track. Aku tahu aku tidak berkekurangan makanan tapi aku tahu orang
miskin dan lapar teristimewa bagi Tuhan. Bukan berarti aku harus membuang
makanan dan mencoba lapar atau memberikan semua makananku kepada orang miskin
dan akhirnya merana kelaparan (tidak semua orang dituntut dan diberikan
anugerah seperti itu). Tapi bagiku secara sederhana itu artinya aku harus makan
secukupnya, tidak berlebihan, tidak menyisakan makanan, menghargai makanan dan
mensyukurinya, menggunakan setiap kalori yg dihasilkannya untuk Tuhan dan kebaikan..
Aku tahu aku bukan orang bodoh karena aku dianugerahi otak yg sampai saat ini
cukup berhasil menopang perjuangan akademisku, tapi aku tahu Tuhan menghargai
orang yg haus akan kebenaran (dan bukankah semua ilmu pengetahuan pada dasarnya
berlomba ke titik yang benar dan pasti). Oleh karena itu aku harus (tapi Tuhan
tidak pernah memaksa) menggunakan tiap waktu dan kesempatan yg ada untuk
belajar dan mengejar hikmat, dan kembali ke hukum kasih, untuk menggunakannya
untuk kebaikan. Begitulah selanjutnya. Benar-benar sederhana, dan ironisnya
terlalu sederhana sehingga sulit dilakukan (pikirkan bagaimana manusia kadang
lebih mudah mengerti dan menerapkan hukum pascal, ide Hegel, dan prinsip
equilibrium Nash daripada hukum kasih yang sangat sederhana). Aku tahu implementasiku
telah gagal dan akan gagal lagi bagaimanapun juga, motivasiku juga tidak
mungkin selamanya murni. Aku tidak bisa sesuci yang Tuhan inginkan tapi Tuhan
juga mengerti itu Justru karena mengetahui hal itu, akhirnya aku menyadari
bahwa aku memerlukan Tuhan untuk menyempurnakan pekerjaanku yang carut marut,
tenunanku yang compang-camping. Aku memang tak mungkin jalan meniti dengan
seimbang bahkan dengan bantuan tongkat sekalipun (segala perlengkapan rohani
yang aku miliki). Aku akan selalu oleng ke kiri atau ke kanan, tapi selama aku
memilih untuk meniti (memikul salib), aku bagaimanapun harus percaya kasih anugerah
Tuhan akan selalu menopangku dan tidak membiarkanku jatuh ke bawah selagi aku
tidak menyerah untuk meniti. Kasih karunialah yang menyempurnakan semuanya.