Filed under: Uncategorized
aku pulang
i’m home begitu dalam bahasa inggris
pulang identik dengan rumah
tertarik juga jadinya menginterpretasi padanan "aku pulang" dalam bahasa inggris (mengenyampingkan frasa i’m back yang lebih berarti aku kembali)
I AM HOME
ketika aku pulang, tak lain aku kembali ke rumahku
jadi ketika aku ngomong ," besok aku pulang ke medan " atau ," aku belum bisa pulang ke jogja"
idealnya medan dan jogja adalah rumahku
tapi ntahlah…
sekarang aku merasa tak berumah
aku selalu berpikir dan percaya keluargamu adalah rumahmu
dimana berada orang-orang yang kau sayang disitu jugalah hati mu
karena hartamu adalah orang-orang itu
yang telah tumbuh mengakar di hati dan nadimu
dimana hartamu disitu hatimu
dimana hatimu disitulah rumahmu
mungkin aku keliru
karena sekarang ketika aku berkumpul dengan hartaku itu
aku ga merasa di rumah
aku tak terlindungi
aku tidak pulang
kotaku yang kecil makin tua
jalan-jalannya juga makin tua
lorong-lorongnya sumpek dan renta
rautnya makin letih
dan penghuninya kian lelah
hanya saja dia tetap sombong
dan "rumahku (???)" makin terbeban
murung ga pernah tersenyum lagi
sekarang aku lagi dalam pelarianku dari rumah
ye ga keren banget larinya ke warnet
ya abisnya duitku ga ada ini aja uangnya habis nyolong dari dompet emakku
kuatir juga sih dicariin soalnya ga permisi (hell with that!!!)
aku pengen sekali aja aku merasakan damai
karena sejak 2 minggu ini aku ga ngerasain damai yang utuh
paling-paling cuma pas hampir-hampir tidur (ngerti kan, maksudku itu loh tahap menuju tidur dimana kita masih bisa mendengar suara-suara orang tapi udah ga bisa mencerna suara itu lagi (entah itu ga bisa atau ga mau wat ever lah)
itu juga karena didukung faktor X (hehehe ;>)
sekarang malam harilah satu-satunya waktu aku bisa ngerasain damai
walau sebatas kedamaian yang semu karena semua orang tertidur
dan aku bisa menipu diri dengan menganggap keheningan yang ada karena semuanya lagi tidur not because there’s sumthing totally wrong here
aku pengen malam sepanjang mungkin
aku terjaga selama mungkin waktu malam
?
karena kalo aku tdur malam terasa sangat cepat tapi kalo aku terjaga aku bisa menikmatinya (pandangan yang bodoh dan salah tapi praktis) jadi inget cerita nenek yang membenci malam
dan sangat mencintai siang tapi ga mirip sih sama aku
sekarang di "rumah (???)" lagi ada pembicaraan rahasia empat mata yang akan menentukan nasib negara kami yg kecil nan ruwet. hopefully they finally make a better decision for all
yah…
apapun itu
apapun yg bakal terjadi
aku tahu aku bakal baik-baik aja
ntah kenapa aku tau
aku berharap ga hanya aku tapi buat semuanya yang terkena imbas gejolak politik di negara kecilku
walau itu berarti malam-malam panjang berderai airmata (halllah !!! bahasanya)
walau itu berarti ketergantungan yang makin dalam buat si faktor X
walau itu berarti ketakutan dan ketidakpercayaan yang makin besar atas apa yang dsbtkn org KOMITMEN
terserahlah
aku baik-baik saja kok
kami baik-baik saja kok
come what may
come whatever may come
we’ll be just fine
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
wew wew wew tulisan kmu membuat saya teringat akan rumah saya (bekasi, sub urban jakarta).
entah kenapa pas saya balik kerumah perasaan saya berbeda banget…
saya merasa terkadang tak betah berada disana.
semua terasa tak berubah(yg saya maksud adalah lingkungan disekitar rumah saya).
saya merasa mereka (they are not my family) terlalu menyebalkan.. mereka stagnan, tak bergeming melihat keadaan sekitar, seakan membatu.
yang mereka pikirkan hanya menuntut kepada Tuhan agar keadaan hidup nereka diubahkan dari yang miskin menjadi kaya, dari bodoh menjadi pintar, dari tak terkenal menjadi populer…
semuanya aneh sekali, mereka hanya berharap namun tak bertindak..
Yang mereka pikirkan hanya kemenangan pribadi, terlalu egois jika dipikirkan dengan pikiran saya..
Mereka hanya berani mengkritik namun tak bisa memberikan solusi, karena bagi saya omong kosong jika kritik tidak disertkan sebuah solusi..semuanya butuh takaran tertentu untuk menilai itu baik atau tidak..
Mereka (khususnya pelajar) hanya bersenang2 saja, tawuran, bermain judi, mabuk2an..
Entah apa yang selalu mereka pikirkan sebenarnya..
Yang saya lakukan saat tiba dirumah hanya diam dirumah, entah saya muak melihat itu atau saya sendiri yang terlalu idealis..
karena jika mereka saya beri arahan, mereka justru marah dan bersikap benci terhadap saya..ya mungkin benar apa yang dikatakan seorang philosophy yang saya lupa namanya bahwa ” orang bodoh biasanya menggunakan kekerasan dalam bertindak, namun orang pintar biasanya menggunakan otaknya dalam bertindak”—red..secara tidak langsung saya menyebut mereka bodoh– * Please forgive me, God !!!! *
semuanya itu membuat saya tidak betah disana, mungkin hanya seminggu saya dapat bertahan..menghabiskan liburan dengan bercengkrama dengan orang tua dan saudara kandung saya.
==============================
oia saya bentar lagi pgn buat buletin post—yah mungkin berisi keidealisan saya..
Yulianto 08.03.06 @ 7:35 pmharap kritik dan sarannya..
Thx
Gbu…