untitled
burung kecil dan sebatang pohon
dulu seekor burung kecil hinggap di dahan sebatang pohon rindang
pikirnya telah kutemukan rumahku
mereka kini sepasang
walau kadang ranting2 pohon yg terus tumbuh mendesak dan melukai burung kecil
dan patuk-patuk burung menusuk tubuh pohon
namun burung tetaplah burung
dan pohon akan selalu menjadi pohon
burung akan terbang sayapnya menanti dikepakkan
dan dia terbang
sedang pohon akan terus tumbuh mengakar
tegak tak beranjak
oh burung terbanglah ujar pohon
aku akan menunggu disini
burung kecil tampak murung
betapa dia damai bersama pohon
dan oh betapa dia mencintai langit
putih biru atau kelam
betapa dia ingin terus berteduh
dan oh tak bisa berhenti berpikir mengangkasa
pohon yg baik
bolehkah aku belajar mencintaimu dan mencintaimu
dan gagal…..
karena burung kecil
takut….
setelah berjumpa dengan cakrawala
berdansa dengan riak-riak genitnya
lupa jalan kemana pohon menanti
Rashomon and The Scariest Fact I Know
Sekitar 2 minggu kemaren di kelas Japanese Literature (aku suka banget kelasnya) kami menonton Rashomonnya Akira Kuroshawa. Ini pertama kalinya buat aku (hehehe maafin semua pelanggan sketsa yg pernah kurekomendasikan film ini, tapi filmnya memang bagus kan) dan juga buat beberapa temanku.
Anyway film itu bercerita tentang proses pengadilan tepatnya hearing process dan fact finding (legally context speaking) sebuah kasus pembunuhan seorang laki-laki dari kelas atas. Ada beberapa orang yg menjadi saksi, Tojamaru seorang perampok terkenal, istri korban, seorang tukang kayu yang kebetulan lewat (kalo tidak salah sih, tukang kayu ya) dan si korban sendiri. Ya! si korban sendiri atau tepatnya arwahnya.
Tojamaru, istri korban, si tukang kayu, dan arwah korban, mereka semua diminta utk memberi kesaksian ttg peristiwa itu. Masing-masing punya versi sendiri dan tidak ada yg bisa membuktikan bahwa versi yg satu benar atau versi yg lain salah. Masing-masing mereka berbeda di bagian yg mereka anggap penting bagi mereka. BAgian-bagian itu menggambarkan harga diri, kehormatan dan integritas sesuai dengan interpretasi posisi sosial mereka masing-masing, perompak, lelaki bangsawan, istri bangsawan dan seorang tukang kayu miskin.
Semua kisah ini diceritakan oleh si tukang kayu kepada 2 org temannya (salah satunya seorang biksu) di kuil rashomon (kuil besar di kyoto) di waktu hujan deras. Tukang kayu bersikeras bahwa versi Tajomaru, istri korban dan korban adalah bohong. Dia melihat semua kejadian dengan matanya sendiri. Singkatnya dia tahu kebenarannya, dan karena itulah dia juga berbohong di pengadilan. Dia tahu seluruh cerita dan dia tahu kemana perginya pedang kecil bermutiara indah milik istri korban. Ya… ke tangannya karena itulah ia berbohong di depan pengadilan.
Tiba-tiba suara tangis bayi menghentikan pembicaraan mereka. Seorang bayi terbungkus kimono mahal tergeletak di sudut kuil itu. Salah satu teman dari tk. kayu tadi dengan cepat segera bergerak dan merampas kimono mahal yg membungkus si bayi. Tk. Kayu dan biksu marah dan mengutuk perbuatan si teman tadi. Temannya tadi menjawab, Apakah aku lebih buruk dari orang tuanya yg membuang bayi itu? Semua orang sekarang bertindak sesuai kepentingannya sehingga mereka bisa bertahan hidup. Kalau begitu apakah aku salah? Apakah aku lebih buruk dari kau, seorang pembohong dan pencuri? Kau apakan pedang kecil berharga itu, huh?!, kira-kira begitulah perkataan si teman tadi. Lalu dia pergi meninggalkan biksu, tk.kayu dan si bayi.
Tk kayu lalu berusaha mengambil si bayi dari tangan biksu temannya. Tapi si biksu tak lagi percaya, pandangan matanya menyiratkan kecurigaan penuh. " Anakku ada enam, satu lagi tidak akan masalah bagiku" kata si tk. kayu. Raut wajahnya menyiratkan ketulusan. Pupuslah kecurigaan si biksu. Sembari minta maaf dia menyerahkan bayi itu ke tangan si tk. kayu. "Aku memang orang yg terendah dari yg terendah" kata si tk.kayu. "Tidak, setelah bertemu denganmu, aku melihat secercah harapan di dunia" kira-kira begitulah jawab si biksu. Lalu si tukang kayu pun berlalu sambil menggendong si bayi disambut matahari yg kembali bersinar seusai hujan.
Itulah kira-kira inti dan akhir dari cerita Rashomon (di versi prosanya ending yg terakhir tidak ada, itu semua hanya tambahan dari sutradara). Semua yg menonton film itu, bisa mengerti bahwa di adegan terakhir tersebut, sutradara ingin menyampaikan pesan, bhw dunia emang buruk dan semakin buruk tapi kita masih punya harapan. Orang-orang tidak seburuk yg kita sangka, dan mereka semua masih memiliki kebaikan di hatinya. Hujan deraspun akan selesai dan matahari pun akan bersinar lagi. Pesan itu sangat jelas tergambarkan di film tersebut.
Yang membuatku shock dan kaget adalah seorang temanku berkata bahwa dia tidak melihat adanya pesan seperti itu tergambar dalam film tersebut. "Aku tidak melihat sutradara itu menyampaikan pesan tentang harapan di film tersebut. Semuanya kabur dan penuh dengan keputusasaan" katanya. Aku shock karena menurutku pandangan objektif manapun akan dengan jelas melihat pesan tersebut tergambarkan. Mengapa temanku ini tidak? Apakah kesinisannya terhadap kebaikan manusia sedemikian menguasai dia? Bahkan optimisme yg sedemikian jelas tergambarkan pun bisa terlihat kabur bahkan hilang dari matanya? Apakah dia hanya berusaha melihat dari perspektif lain? Aku kaget, shock dan terkejut atas perkataan singkat dari temanku ini dan aku menggigil seketika itu juga. Seperti angin dingin berhembus tiba-tiba ke arahku. Aku takut!! Seperti inikah sosok2 yg menghuni bumi ini sekarang. Bagaimana bisa berharap mereka melakukan kebaikan tulus dan harapan, untuk mengenalinya saja mereka sudah tidak sanggup lagi, bhkan di film sekalipun dimana pengembangan karakter, ruang dan waktu yg dibatasi. Bahkan teroris dan bencana alam tidak semenakutkan kenyataan dingin ini. Ya benar, hal inilah yang menakutkanku ketika manusia tidak bisa lagi mengenali kebaikan dan harapan.
Dua bulan yang lalu utk sewaktu masuk kelas Asahi Sensei (Guru) yg pertama, kami (semua muridnya) diberikan berlembar-lembar kertas bahan kuliah yang sejujurnya sangat tidak menarik pdhl kelasnya berjudul Japan’s Foreign Policy dan sebagai mhsw HI yg baik dan benar ada semacam kewajiban bagiku utk tertarik. Terselip di lembaran-lembaran kertas itu sebuah memorial kecil (sangat kecil) ttg seseorang bernama Agus Muliawan. Yah… seorang Indonesia.
Ternyata inilah jati diri sosok di foto yg terpampang di kantor AIKOM (nama programku). Seorang pria seumuran mahasiswa berpose tepat di tengah barikade pagar duri tentara Indonesia yg juga sedang dikawal oleh para tentara dengan ikat kepala dan kaos dgn karakter kanji. Aku tidak pernah coba bertanya siapa gerangan sosok di foto itu, bukan karena tidak punya rasa penasaran hanya saja aku mencukupkan diriku sendiri dengan jawaban seorang mahasiswa yg begitu sok karena bisa berpose di depan barikade tentara Indonesia dan cukup sengak utk mengirimkannya ke Jepang.
Ya… laki-laki yg sok dan sengak itu adalah Agus Muliawan yg memorial tentang dia didistribusikan di kelas pertama yg sama sekali tidak ada hubungannya dengan prose belajar dan mengajar. Kaget !!! itu pertama. Bukan karena ternyata orang itu adalah orang Indonesia, tapi karena dia bukan lelaki yg sok aksi seperti kukira dan fakta bahwa dia tewas selama bertugas.
Sensee kemudian bertanya padaku, kamu tahu agus muliawan?, dia juga dari gadjah mada, tidak, jawabku. Rasanya aku tak bisa berdiri tegak saat itu, dan berharap andai saja lantai bisa menelan dan menghisapku. Malu itu kedua! Malu karena aku tidak mengenal dia, malu karena tidak ada yg org yg mengenalkan dia di Indonesia, malu karena aku tidak yakin satupun dari temanku mengenal dia walau kami semua berbagi almamater dan tumpah darah yg sama. Lebih malu lagi karena disini begitu bnyk org yg menghargai mendiang, memampang fotonya, membagikan memorialnya, memperingati dia setiap ulang tahun AIKOM, bahkan menundukkan kepala dan membungkuk mengenang dia dan terinspirasi. Senseeku sendiri tidak pernah bertemu muka dengan dia. Sewaktu dia menjabat sebagai duta besar Jepang di Timor-Timur, dia diberitahu bahwa ada seorang jurnalist Indonesia yg tewas di Timor Timur yang juga adalah bekas mahasiswa program AIKOM. Kematiannya juga mengubah hidup editor Time Asia, Richard Llyod Parry dan menghubungkan dia dengan Senseeku ini. Rasanya benar adanya, Seorang nabi tidak akan dihargai di tempat asalnya.
Adakah UGM setiap memperingati dies natalisnya mengenangkan dia, mengenangkan sosok-sosok lain yg menghidupi dirinya dengan prinsip yg gaung dikumandangkan oleh UGM, Kampus Kerakyatan selain daripada kolom2 "kosong" penuh dengan penghargaan dan kerjasama luar negeri yg dicapai.
Adakah aku berusaha mengenal seberapa dalam kampus dan teman2ku mengerti prinsip tinggi ilmu tinggi pengabdian? dan berusaha mengenal diriku sendiri melalui slogan itu?
dan di titik ini aku merasa agus muliawan datang dan bertanya semua itu padaku. Dia hidup sesaat mengguncangku, mencabut semua slogan2 itu yg kupakai sebagai atribut tanpa berusaha menghidupinya. Dibuangnya slogan2 itu jatuh ke tanah tepat di hadapanku!!! Menatap tajam ke mataku, tanpa kata bertanya, Mampukah kau memungutnya kembali, memakainya kembali jika itu berarti kau harus mengorbankan dirimu, kenyamananmu, nyawamu utk sesuatu yang bhkn mgkn tidak akan dihargai oleh mereka yg baginya kau menguras hidup?
Agus Muliawan hanya datang sedetik itu, dan aku masih berdiri mematung, atribut-atribut itu masih berserakan di hadapanku….