sasmita


Rashomon and The Scariest Fact I Know
December 14, 2007, 2:49 am
Filed under: Uncategorized

Sekitar 2 minggu kemaren di kelas Japanese Literature (aku suka banget kelasnya) kami menonton Rashomonnya Akira Kuroshawa. Ini pertama kalinya buat aku (hehehe maafin semua pelanggan sketsa yg pernah kurekomendasikan film ini, tapi filmnya memang bagus kan) dan juga buat beberapa temanku.

Anyway film itu bercerita tentang proses pengadilan tepatnya hearing process dan fact finding (legally context speaking) sebuah kasus pembunuhan seorang laki-laki dari kelas atas. Ada beberapa orang yg menjadi saksi, Tojamaru seorang perampok terkenal, istri korban, seorang tukang kayu yang kebetulan lewat (kalo tidak salah sih, tukang kayu ya) dan si korban sendiri. Ya! si korban sendiri atau tepatnya arwahnya.

Tojamaru, istri korban, si tukang kayu, dan arwah korban, mereka semua diminta utk memberi kesaksian ttg peristiwa itu. Masing-masing punya versi sendiri dan tidak ada yg bisa membuktikan bahwa versi yg satu benar atau versi yg lain salah. Masing-masing mereka berbeda di bagian yg mereka anggap penting bagi mereka. BAgian-bagian itu menggambarkan harga diri, kehormatan dan integritas sesuai dengan interpretasi posisi sosial mereka masing-masing, perompak, lelaki bangsawan, istri bangsawan dan seorang tukang kayu miskin.

Semua kisah ini diceritakan oleh si tukang kayu kepada 2 org temannya (salah satunya seorang biksu) di kuil rashomon (kuil besar di kyoto) di waktu hujan deras. Tukang kayu bersikeras bahwa versi Tajomaru, istri korban dan korban adalah bohong. Dia melihat semua kejadian dengan matanya sendiri. Singkatnya dia tahu kebenarannya, dan karena itulah dia juga berbohong di pengadilan. Dia tahu seluruh cerita dan dia tahu kemana perginya pedang kecil bermutiara indah milik istri korban. Ya… ke tangannya karena itulah ia berbohong di depan pengadilan.

Tiba-tiba suara tangis bayi menghentikan pembicaraan mereka. Seorang bayi terbungkus kimono mahal tergeletak di sudut kuil itu. Salah satu teman dari tk. kayu tadi dengan cepat segera bergerak dan merampas kimono mahal yg membungkus si bayi. Tk. Kayu dan biksu marah dan mengutuk perbuatan si teman tadi. Temannya tadi menjawab, Apakah aku lebih buruk dari orang tuanya yg membuang bayi itu? Semua orang sekarang bertindak sesuai kepentingannya sehingga mereka bisa bertahan hidup. Kalau begitu apakah aku salah? Apakah aku lebih buruk dari kau, seorang pembohong dan pencuri? Kau apakan pedang kecil berharga itu, huh?!, kira-kira begitulah perkataan si teman tadi. Lalu dia pergi meninggalkan biksu, tk.kayu dan si bayi.

Tk kayu lalu berusaha mengambil si bayi dari tangan biksu temannya. Tapi si biksu tak lagi percaya, pandangan matanya menyiratkan kecurigaan penuh. " Anakku ada enam, satu lagi tidak akan masalah bagiku" kata si tk. kayu. Raut wajahnya menyiratkan ketulusan. Pupuslah kecurigaan si biksu. Sembari minta maaf dia menyerahkan bayi itu ke tangan si tk. kayu. "Aku memang orang yg terendah dari yg terendah" kata si tk.kayu. "Tidak, setelah bertemu denganmu, aku melihat secercah harapan di dunia" kira-kira begitulah jawab si biksu. Lalu si tukang kayu pun berlalu sambil menggendong si bayi disambut matahari yg kembali bersinar seusai hujan.

Itulah kira-kira inti dan akhir dari cerita Rashomon (di versi prosanya ending yg terakhir tidak ada, itu semua hanya tambahan dari sutradara). Semua yg menonton film itu, bisa mengerti bahwa di adegan terakhir tersebut, sutradara ingin menyampaikan pesan, bhw dunia emang buruk dan semakin buruk tapi kita masih punya harapan. Orang-orang tidak seburuk yg kita sangka, dan mereka semua masih memiliki kebaikan di hatinya. Hujan deraspun akan selesai dan matahari pun akan bersinar lagi. Pesan itu sangat jelas tergambarkan di film tersebut.

Yang membuatku shock dan kaget adalah seorang temanku berkata bahwa dia tidak melihat adanya pesan seperti itu tergambar dalam film tersebut. "Aku tidak melihat sutradara itu menyampaikan pesan tentang harapan di film tersebut. Semuanya kabur dan penuh dengan keputusasaan" katanya. Aku shock karena menurutku pandangan objektif manapun akan dengan jelas melihat pesan tersebut tergambarkan. Mengapa temanku ini tidak? Apakah kesinisannya terhadap kebaikan manusia sedemikian menguasai dia? Bahkan optimisme yg sedemikian jelas tergambarkan pun bisa terlihat kabur bahkan hilang dari matanya?  Apakah dia hanya berusaha melihat dari perspektif lain? Aku kaget, shock dan terkejut atas perkataan singkat dari temanku ini dan aku menggigil seketika itu juga. Seperti angin dingin berhembus tiba-tiba ke arahku. Aku takut!! Seperti inikah sosok2 yg menghuni bumi ini sekarang. Bagaimana bisa berharap mereka melakukan kebaikan tulus dan harapan, untuk mengenalinya saja mereka sudah tidak sanggup lagi, bhkan di film sekalipun dimana pengembangan karakter, ruang dan waktu yg dibatasi. Bahkan teroris dan bencana alam tidak semenakutkan kenyataan dingin ini. Ya benar, hal inilah yang menakutkanku ketika manusia tidak bisa lagi mengenali kebaikan dan harapan.




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>