sasmita


belanja oh belanja
January 28, 2008, 6:59 am
Filed under: Uncategorized

siapa sih ga suka belanja
bohong banget kalo dibilang ga suka belanja
belanja bukan terbatas pada sistem yang diterapkan oleh ibu-ibu dan beberapa remaja putri (didn’t my phrase sound like a host in cooking show) dan terbatas ama barang2 seperti sepatu, make-up, baju yang dikategorikan "ih lucu banget ya" sama mahluk2 teman hawa itu.
cowok yang beli pernak-pernik  komputer juga disebut belanja, sama dengan bapak-bapak yang nawar harga cerutu juga dibilang belanja.

tak terkecuali saya, yang mengalami dimensi baru belanja (fuih gila stressnya) di jepang.

tau kan di jepang harga barang2 itu bisa mencapai 8 x lipat harga di indonesia dan emang jepang khususnya tokyo itu salah satu kota yang biaya hidup paling tinggi. memang saya dikasih beasiswa, 80 rb yen sebulan (sekitar 6 juta sampe 6.4 juta rupiah) tapi jangan dikalkulasikan dengan rupiah dan biaya hidup di Indonesia. disini kalo makan diluar tuh minimal 700 yen (udah yang murah tuh) berarti sekitar 56rb rupiah di Indonesia. Nah lo pokoknya hentikan konversi deh kalo lagi membeli sesuatu disini.

pernah saya pengen beli boots di jepang alasannya karena dingin (emang sih membantu banget kalo pake boots) dan kedua ya gaya mumpung lagi di tokyo kan saya bisa bergaya dengan gaya yang ga pernah bisa saya bayangkan saya lakukan di Indonesia apalagi jogja (dan kenyataannya saya cukup puas setelah itu hwahahaha). nah budget sudah disusun saatnya belanja. eits tunggu dulu, saking takutnya saya bertempur di mal dan toko2 di tokyo (bertempur melawan keinginan utk membeli barang2 lain atau boots yang lebih mahal) sebelum pergi belanja saya berdoa dulu loh…
serius saya berdoa…. saya tahu kelemahan saya weleh weleh

jadi pergilah saya. menelusuri toko demi toko dan memasuki berbagai department store. policy saya sih, yah sama kayak sistem belanja ibu2 gitu, kelilingi dulu semuanya, coba bandingkan harganya, baru deh pilih!! (sistem yang melelahkan, dan sering mendatangkan komplain dari partner lelaki tapi secara logika sih tepat guna). o ya satu lagi policy jangan masuk ke toko yang sama sekali tidak berhubungan dengan target operasi belanja, dan jangan melirik apa lagi sampe mencoba boots yang harganya di atas budget!!! It’s a big no no…

awal petualangan saya sih ok…Langkah kaki ini terasa ringan langsung menuju ke counter sepatu. Tapi alamak, apa saya yang terlalu naif dan kampungan ya (bagai minah si gadis desa datang ke kota), boots itu harganya mahal banget!!! bahkan ada yang 7 x lipat budget saya. baiklah jangan menyerah, masih ada toko yang lain. beranjak ke toko yang lain, bah… sama saja!! Saya mulai putus asa, akankah saya menemukan sepasang boots yang cantik dan menawan (yang bisa membuat kaki saya terlihat seksi hehehe). Harapan pun mulai pudar (halllllah bahasanya ya). Ada sih yang murah tapi ituloh haknya (heels) tinggi banget trus runcing-runcing pula. Jangankan berlari, berdiri pake itu saya tidak mampu.

Kalo udah begitu, biasanya  mata ini pengen dimanja dan memaksa, ayo masuk masuk ke toko yang itu saja. Dan seakan bersahutan barang2 di toko-toko itu pun memanggil, ‘ayo hampirilah kami, cobalah kami, lihat betapa menariknya kami, ayuh ayuh atuh jangan malu malu, datanglah’. persis banget ama yang ada di novelnya Kyoji Kobayashi, mazelife. Novelnya keren banget. Mengkritik habis2an konsumerisme di Jepang yg udah kayak agama dan barang2 dijadikan Tuhan. Oh tidak!!! Apa itu berarti saya sudah seperti itu???

di Jepang ada banyak barang yang menarik utk dibeli bahkan yang kita ga pernah bayangkan ada. Eksistensi dan penampilan barang itu sendiri yang buat kita merasa membutuhkannya, kegunaanya sih ga gitu2 krusial. Jadinya setiap orang melihat jadi berpikir wah mungkin saya butuh ini, atau eh kayaknya ini bagus juga buat….atau wow unik ya beli ah jarang2 nemu barang kek gini… dst ..dst..

Misalnya aja nih ya, handphone. disini itu handphone murah banget asli, ga berharga malah tapi kalo beli pertama. Maksudnya kan disini semua pra bayar (bener ga sih) jadi ga pake voucher2an gitu. Nah harga handphone pertama beli itu cuma 1 yen tau!! saking murahnya saya beliin tuh 5 temen AIKOM hehehe. Tapi  istilahnya  biayanya kamu cicil per bulan sampe setahun gitu. Ga ngerti2 amat sistemnya tapi begitulah. Jadi dengan mudah kamu bisa punya beberapa hp dan gonta-ganti hp. SAma sih kayak di Indo tapi disini lebih dimungkinkan. Yg bikin heran ituloh, barang komplementer (yg ga komplement2 banget, -betul ga sih bahasa saya??) Ada aja yg bisa dibuat jadi aksesoris hp. Mulai dari gantungannya (bayangkan ada yg gantungannya bahkan lebih berat dari hp-nya ck…ck…ck…). Itu juga bervariasi, ada yg cuma buat dekorasi ada yg punya bantalan khusus atau apalah buat ngelap screen-nya. Weleh…weleh… Lalu ada stiker-stikeran buat dekorasi screen, ada cermin tempel jadi selagi ngesms bisa bercermin, terus case-nya. Belum lagi perlengkapan tambahan buat fitur2nya kayak fitur tv, radio, kamera (kameranya ada yang 5.1 mp loh). Subarashiiiiiii

Begitulah….. semuanya terasa penting apalagi kalo kamu melihat semua orang disekitarmu seperti itu, membeli ini dan itu. Pernah jalan2 ke toko lihat ada barang yg ga ngerti gunanya buat apa, kayaknya jadi dekorasi juga engga (well, semuanya sih karena level survival bhs jepang dan kanji saya). Bentuknya kayak s gitu tapi cuma itu doang ga ada apa-apa. Ternyata oh ternyata setelah beberapa lama saya melihat ada obaasan2 (nenek2) di densha (kereta listrik) yg mengeluarkan barang tersebut dari tasnya. tau buat apa? ayo tebak?? (kok kayak acara quiz anak2 ya -ayo tebak adik-adik!!??) itu buat gantungan payung di densha. Jadi kalo densha-nya padat dan kamu harus diri sementara tanganmu digunakan buat memegang grip, hayo payung taruh dimana, ya digantung aja pake gantungan S. Gantungan S-nya digantung di handle kursi densha terus payung anda digantung di bagian bawah S-nya. Bayangkan pemirsa betapa praktis dan bergunanya alat ini. Segera beli hanya 250 yen saja!!!

yah begitulah (kok kata2nya dari tadi ini terus). Lalu bgmn dengan boots saya. Akhirnya setelah capek bertempur dan nyatanya saya kalah juga. saya beli boots yang harganya diatas budget yang sudah disusun. karena pertama sudah lelah berkelana dari toko ke toko, kedua sok yakin pasti ga ada harga yang lebih rendah, ketiga ya tergoda modelnya. Namun oh oh, setelah perasaan ini ringan sedikit, saya menemukan sebuah toko yang tersembunyi (kenapa sih buat toko malu2 gini!!!) dan disitu boots saya dijual dgn harga yang lebih murah. Tidaaaaaaaaaaakkk. Langsung saya lari pulang…..

Inilah episode standar kehidupan belanja saya. Adegan yg tidak jauh berbeda terulang terlalu sering (saya memang bebal ya atau ternyata Gusti lebih sayang sama penjualnya - stupid guess :>). Tapi saya disini mulai berhemat kok bener !!! Alasannya sih maunya karena tidak mau terjebak arus konsumerisme Jepang!!! Tapi sebenarnya karena 1. uang saya pas2an banget kalo ga mau dibilang kurang
2. saya mau beli kamera dslr yg harganya  fuihhhhh!!!!!!!
ujung2nya saya mengurangi belanja karena belanja juga
well, life likes that

"duh…minah siapa suruh datang ke kota"!!!



paradoks???
January 14, 2008, 3:59 am
Filed under: Uncategorized

Dari dulu aku
diajarkan bahwa Yesus selama ada di dunia lebih dekat dengan orang-orang kecil
yang bodoh, penuh dosa, miskin, kampungan, kotor dan sebaliknya paling jauh
dengan orang-orang terhormat, cendekia, pintar, kaya, dan sebisa mungkin hidup
mengikuti aturan. Mendengar itu seringkali aku merasa takut dan khawatir. Bahwa
Yesus sendiri bersyukur kepada Bapa di surga karena semua hal yg ada
tersembunyi bagi orang-orang dengan status berkelakuan bersih dan baik menurut
hukum, orang-orang intelektual yg hidupnya nyaman tetapi dibukakan bagi orang
yg kecil, tak berdaya, bodoh dan jauh dari standar dunia. Apakah ini artinya
orang Kristen tidak boleh menjadi kaya, berkelimpahan, pintar (pikirkan berapa
banyak orang Kristen taat yang saat ini sedang berjuang mati-matian belajar di
perguruan tinggi, master, phd dan sebagainya), menjadi terhormat (dari ibu
menteri sampai bapak RT tetangga rumah) dalam masyarakat. Sering kali mengingat
hal ini aku langsung instropeksi diri habis-habisan dan akhirnya membohongi diri
sendiri supaya bisa mencocokkan dengan kategori orang yg dekat dengan Yesus
dulunya. Akhirnya yg terjadi aku hanya mengingat kegagalan akademikku agar
menenangkan hati bahwa aku orang bodoh. Aku menghitung barang mewah apa saja
yang belum kumiliki dan setengah mengarang kesusahan apa yg kualami karena
tidak memiliki barang-barang tersebut. Aku membandingkan fisikku dengan bilanglah
mariana renata (yang benar saja!!!) sebagai pembuktian aku tidak cantik. Aku
lalu mengenang setiap dosa yg membuatku terpuruk, setiap pikiran jelek yg
pernah terlintas, kesalahan yg menyakiti diri sendiri dan orang lain, perkataan
yg menyakitkan, hanya supaya meyakinkan
diri bahwa aku memang pendosa. Yang ada hanyalah aku menghancurkan citra diri
yang susah payah kubangun dengan dasar aku berharga, aku indah, aku baik di
mata Tuhan. Aku menyangkal kenyataan bahwa Tuhan memberi setiap orang termasuk aku
perbagai kemampuan yg tidak sama satu dengan yg lainnya. Bahwa aku memiliki
talenta yg tidak semua orang memilikinya, bahwa aku dianugerahi berbagai hal
yang tidak bisa dibilang kurang, jelek, kecil dan jauh dari standar dunia. Aku
bagaimanapun juga harus mengakui bahwa di hadapan dunia ada saat-saat dimana aku
bisa berdiri tegak menantangnya.

 

Ada

paradoks yang mengatakan bahwa di atas
langit ada langit, bahwa sepintar-pintarnya aku selalu ada yang lebih pintar,
sekaya-kayanya aku selalu ada yg lebih kaya. Tidak ada yang menentang hal itu
terutama yang percaya bahwa Tuhan ada. Tapi ide seperti itu sering kali
membuatku melihat ke atas mengukur berapa jauh posisiku dari puncak yang bisa kulihat
dan berapa jauh sudah aku mendaki. Ide itu membawaku pada pemikiran yang
linear, tegak lurus dengan langit sebagai puncak dan membuatku capek karena akan selalu ada
yang harus kukejar atau mengambil titik ekstrem lain, menyerah di posisiku dan
membiarkan orang mendahului ke puncak.

 

Bagiku menjadi
Kristen hampir selalu berarti hidup dalam paradoks. Kali ini paradoksnya adalah
aku berada di sisi standar dunia dan di sampingku ada Kristus dan teman-teman
kecilnya yg secara kasat mata kriterianya jauh dari aku. Aku tidak kelaparan,
tidak bodoh (walaupun mgkn kurang hikmat), aku bukan penjahat kelas kakap
(walaupun semua orang sudah berdosa di mata Tuhan), aku tidak mengalami
tantangan fisik (walaupun mendaftar dalam kontes kecantikan adalah lelucon
melihat penampilan fisikku), aku bukan sampah masyarakat dan lain sebagainya.
Pengertian aku hingga saat ini adalah aku harus berusaha berjalan meniti di
seutas tali dan mencoba tidak terjatuh ke bawah entah itu sebelah kanan dan
atau kiri. Untuk itu aku harus menyeimbangkan diri baik kiri dan kanan.

Susah

sekali, kadang aku berat di kanan dan kadang aku
berat di kiri. Namun justru keberadaan kiri dan kanan itulah yang membuat aku
still on track. Aku tahu aku tidak berkekurangan makanan tapi aku tahu orang
miskin dan lapar teristimewa bagi Tuhan. Bukan berarti aku harus membuang
makanan dan mencoba lapar atau memberikan semua makananku kepada orang miskin
dan akhirnya merana kelaparan (tidak semua orang dituntut dan diberikan
anugerah seperti itu). Tapi bagiku secara sederhana itu artinya aku harus makan
secukupnya, tidak berlebihan, tidak menyisakan makanan, menghargai makanan dan
mensyukurinya, menggunakan setiap kalori yg dihasilkannya untuk Tuhan dan kebaikan..
Aku tahu aku bukan orang bodoh karena aku dianugerahi otak yg sampai saat ini
cukup berhasil menopang perjuangan akademisku, tapi aku tahu Tuhan menghargai
orang yg haus akan kebenaran (dan bukankah semua ilmu pengetahuan pada dasarnya
berlomba ke titik yang benar dan pasti). Oleh karena itu aku harus (tapi Tuhan
tidak pernah memaksa) menggunakan tiap waktu dan kesempatan yg ada untuk
belajar dan mengejar hikmat, dan kembali ke hukum kasih, untuk menggunakannya
untuk kebaikan. Begitulah selanjutnya. Benar-benar sederhana, dan ironisnya
terlalu sederhana sehingga sulit dilakukan (pikirkan bagaimana manusia kadang
lebih mudah mengerti dan menerapkan hukum pascal, ide Hegel, dan prinsip
equilibrium Nash daripada hukum kasih yang sangat sederhana). Aku tahu implementasiku
telah gagal dan akan gagal lagi bagaimanapun juga, motivasiku juga tidak
mungkin selamanya murni. Aku tidak bisa sesuci yang Tuhan inginkan tapi Tuhan
juga mengerti itu Justru karena mengetahui hal itu, akhirnya aku menyadari
bahwa aku memerlukan Tuhan untuk menyempurnakan pekerjaanku yang carut marut,
tenunanku yang compang-camping. Aku memang tak mungkin jalan meniti dengan
seimbang bahkan dengan bantuan tongkat sekalipun (segala perlengkapan rohani
yang aku miliki). Aku akan selalu oleng ke kiri atau ke kanan, tapi selama aku
memilih untuk meniti (memikul salib), aku bagaimanapun harus percaya kasih anugerah
Tuhan akan selalu menopangku dan tidak membiarkanku jatuh ke bawah selagi aku
tidak menyerah untuk meniti. Kasih karunialah yang menyempurnakan semuanya.