Filed under: Uncategorized
Dari dulu aku
diajarkan bahwa Yesus selama ada di dunia lebih dekat dengan orang-orang kecil
yang bodoh, penuh dosa, miskin, kampungan, kotor dan sebaliknya paling jauh
dengan orang-orang terhormat, cendekia, pintar, kaya, dan sebisa mungkin hidup
mengikuti aturan. Mendengar itu seringkali aku merasa takut dan khawatir. Bahwa
Yesus sendiri bersyukur kepada Bapa di surga karena semua hal yg ada
tersembunyi bagi orang-orang dengan status berkelakuan bersih dan baik menurut
hukum, orang-orang intelektual yg hidupnya nyaman tetapi dibukakan bagi orang
yg kecil, tak berdaya, bodoh dan jauh dari standar dunia. Apakah ini artinya
orang Kristen tidak boleh menjadi kaya, berkelimpahan, pintar (pikirkan berapa
banyak orang Kristen taat yang saat ini sedang berjuang mati-matian belajar di
perguruan tinggi, master, phd dan sebagainya), menjadi terhormat (dari ibu
menteri sampai bapak RT tetangga rumah) dalam masyarakat. Sering kali mengingat
hal ini aku langsung instropeksi diri habis-habisan dan akhirnya membohongi diri
sendiri supaya bisa mencocokkan dengan kategori orang yg dekat dengan Yesus
dulunya. Akhirnya yg terjadi aku hanya mengingat kegagalan akademikku agar
menenangkan hati bahwa aku orang bodoh. Aku menghitung barang mewah apa saja
yang belum kumiliki dan setengah mengarang kesusahan apa yg kualami karena
tidak memiliki barang-barang tersebut. Aku membandingkan fisikku dengan bilanglah
mariana renata (yang benar saja!!!) sebagai pembuktian aku tidak cantik. Aku
lalu mengenang setiap dosa yg membuatku terpuruk, setiap pikiran jelek yg
pernah terlintas, kesalahan yg menyakiti diri sendiri dan orang lain, perkataan
yg menyakitkan, hanya supaya meyakinkan
diri bahwa aku memang pendosa. Yang ada hanyalah aku menghancurkan citra diri
yang susah payah kubangun dengan dasar aku berharga, aku indah, aku baik di
mata Tuhan. Aku menyangkal kenyataan bahwa Tuhan memberi setiap orang termasuk aku
perbagai kemampuan yg tidak sama satu dengan yg lainnya. Bahwa aku memiliki
talenta yg tidak semua orang memilikinya, bahwa aku dianugerahi berbagai hal
yang tidak bisa dibilang kurang, jelek, kecil dan jauh dari standar dunia. Aku
bagaimanapun juga harus mengakui bahwa di hadapan dunia ada saat-saat dimana aku
bisa berdiri tegak menantangnya.
Ada
paradoks yang mengatakan bahwa di atas
langit ada langit, bahwa sepintar-pintarnya aku selalu ada yang lebih pintar,
sekaya-kayanya aku selalu ada yg lebih kaya. Tidak ada yang menentang hal itu
terutama yang percaya bahwa Tuhan ada. Tapi ide seperti itu sering kali
membuatku melihat ke atas mengukur berapa jauh posisiku dari puncak yang bisa kulihat
dan berapa jauh sudah aku mendaki. Ide itu membawaku pada pemikiran yang
linear, tegak lurus dengan langit sebagai puncak dan membuatku capek karena akan selalu ada
yang harus kukejar atau mengambil titik ekstrem lain, menyerah di posisiku dan
membiarkan orang mendahului ke puncak.
Bagiku menjadi
Kristen hampir selalu berarti hidup dalam paradoks. Kali ini paradoksnya adalah
aku berada di sisi standar dunia dan di sampingku ada Kristus dan teman-teman
kecilnya yg secara kasat mata kriterianya jauh dari aku. Aku tidak kelaparan,
tidak bodoh (walaupun mgkn kurang hikmat), aku bukan penjahat kelas kakap
(walaupun semua orang sudah berdosa di mata Tuhan), aku tidak mengalami
tantangan fisik (walaupun mendaftar dalam kontes kecantikan adalah lelucon
melihat penampilan fisikku), aku bukan sampah masyarakat dan lain sebagainya.
Pengertian aku hingga saat ini adalah aku harus berusaha berjalan meniti di
seutas tali dan mencoba tidak terjatuh ke bawah entah itu sebelah kanan dan
atau kiri. Untuk itu aku harus menyeimbangkan diri baik kiri dan kanan.
Susah
sekali, kadang aku berat di kanan dan kadang aku
berat di kiri. Namun justru keberadaan kiri dan kanan itulah yang membuat aku
still on track. Aku tahu aku tidak berkekurangan makanan tapi aku tahu orang
miskin dan lapar teristimewa bagi Tuhan. Bukan berarti aku harus membuang
makanan dan mencoba lapar atau memberikan semua makananku kepada orang miskin
dan akhirnya merana kelaparan (tidak semua orang dituntut dan diberikan
anugerah seperti itu). Tapi bagiku secara sederhana itu artinya aku harus makan
secukupnya, tidak berlebihan, tidak menyisakan makanan, menghargai makanan dan
mensyukurinya, menggunakan setiap kalori yg dihasilkannya untuk Tuhan dan kebaikan..
Aku tahu aku bukan orang bodoh karena aku dianugerahi otak yg sampai saat ini
cukup berhasil menopang perjuangan akademisku, tapi aku tahu Tuhan menghargai
orang yg haus akan kebenaran (dan bukankah semua ilmu pengetahuan pada dasarnya
berlomba ke titik yang benar dan pasti). Oleh karena itu aku harus (tapi Tuhan
tidak pernah memaksa) menggunakan tiap waktu dan kesempatan yg ada untuk
belajar dan mengejar hikmat, dan kembali ke hukum kasih, untuk menggunakannya
untuk kebaikan. Begitulah selanjutnya. Benar-benar sederhana, dan ironisnya
terlalu sederhana sehingga sulit dilakukan (pikirkan bagaimana manusia kadang
lebih mudah mengerti dan menerapkan hukum pascal, ide Hegel, dan prinsip
equilibrium Nash daripada hukum kasih yang sangat sederhana). Aku tahu implementasiku
telah gagal dan akan gagal lagi bagaimanapun juga, motivasiku juga tidak
mungkin selamanya murni. Aku tidak bisa sesuci yang Tuhan inginkan tapi Tuhan
juga mengerti itu Justru karena mengetahui hal itu, akhirnya aku menyadari
bahwa aku memerlukan Tuhan untuk menyempurnakan pekerjaanku yang carut marut,
tenunanku yang compang-camping. Aku memang tak mungkin jalan meniti dengan
seimbang bahkan dengan bantuan tongkat sekalipun (segala perlengkapan rohani
yang aku miliki). Aku akan selalu oleng ke kiri atau ke kanan, tapi selama aku
memilih untuk meniti (memikul salib), aku bagaimanapun harus percaya kasih anugerah
Tuhan akan selalu menopangku dan tidak membiarkanku jatuh ke bawah selagi aku
tidak menyerah untuk meniti. Kasih karunialah yang menyempurnakan semuanya.
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
This beautiful klak..
I’m pressing on the upward way,
Sammy 사무엘 01.14.08 @ 9:43 pmnew heights I’m gaining every day…