sasmita


Menari -1
March 10, 2008, 12:35 am
Filed under: Uncategorized

Aku ingin menari

Tarian apa aku tak mengerti. Aku hanya ingin bergerak seiring lonjakan-lonjakan energi yang ada di dalamku. Kadang perlahan, kadang cepat mengejutkan. Aku akan menari seperti gelembung air yang dididihkan. Muncul, menggelembung, lalu pecah menjadi butir-butir air kembali yang menggelegak dengan riuh. Atau seperti  kembang api. Bukan…bukan kembang api yang ramai, meluncur tinggi ke atas entah tergenjot energi apa, mekar seketika, sekali saja, padam lalu jatuh, hilang…Bukan seperti itu. Hanya kembang api kecil yang panjang, dihiasi percikan- percikan api yang menggigit genit. Nyalanya kecil dan redup seperti senyuman- senyuman kecil yang kau lihat setiap hari, jika kau mau mengamati. Seperti itulah tarianku. Semoga saja tangkaiku cukup panjang karena aku ingin terus menari. Seperti itu jugalah getaran- getaran yang kurasakan di seluruh tubuh. Layaknya percikan api yang menyala-nyala. Mungkin mirip aliran listrik kecil yang menyengat mulai ujung jariku, memompa luapan emosi,perasaan, -apalah sebut saja- ke dalam hati atau jantung -itu juga terserah-, menjaga suplai oksigen beredar hingga bisa terlihat mataku berbinar dan bibirku merah hidup.

Mengapa menari?
Kenapa tidak? Karena aku tidak menemukan alasan untuk tidak menari, tidak menemukan cara untuk menulikan telingaku dari melodi yang sayup-sayup kudengar, atau membekukan tubuhku yang mendesak menuruti nada-nada itu. Setiap hari, jam, menit, detik, setiap helaan nafas. Entah itu mataku tertutup atau tidak, tertidur atau bangun, aku ingin menari, karena cinta, karena kasih, karena afeksi, sayang -apapun kau namakan dia-, karena senyum- senyum yang kuterima, kulihat, kuresapi. Tegur sapa yang kudengar, entah itu untukku, atau buat wajah-wajah lain. Karena makanan yang lezat atau yang hambar sekalipun. Mungkin pagi ini karena aku bisa bangun pagi dan melihat matahar terbit, atau pagi lain (ups siang lain) aku terbangun ketika matahari telah berpose  tepat di atas kepalaku. Bisa saja karena jerawat yang tiba-tiba muncul atau good hair day. Teman- teman yang berbaring rapat berdesakan di kamarku pun bisa jadi alasan. Sama seperti malam- malam sendiri tertidur dengan posisi fetus setelah lelah menangis. Rumah yang hancur berantakan, pernikahan yang gagal, uang yang terlalu cepat pergi, cinta yang tertolak, lagu yang sedih, doa yang belum dijawab, perintah yang terlalu berat, pengorbanan yang kesepian, gempa bumi, luka yang berdarah, perpisahan, kata- kata dan kopi yang pahit. Diacuhkan, dikhianati, tiap tetes tangisan, oh… sebut saja tiap keping derita itu, dulu, sekarang dan nanti. Semuanya, akan menjadi saat- saat dimana aku akan membungkung rendah dalam tarianku. Tetapi tidak akan terjatuh karena telah, selalu dan akan ada tawa, senyum, coklat manis, diskon yang besar, teman yang mendengar, bunga yang mekar, doa yang dijawab, rumah yang tengah dipersiapkan, surat cinta zaman SMP, Tsumabuki yang cakep, langit yang biru, stiker yang konyol, udara yang hangat, mazmur yang menyegarkan, khotbah di bukit (kalau kau mau menyempatkan membaca). Bahkan di malam tak berbintang tak berbulan pun ada  lampu jalan yang menyala atau setidaknya kunang- kunang akan berhias diri, mungkin jangkrik akan berorkestra. Ooo dan ya…. setelah itu pasti akan selalu datang pagi!!!

Semuanya… semuanya adalah alasanku untuk menari, semua yang kulihat sekarang, kurasakan saat ini, semua yang juga telah kulupakan, atau yang tak pernah kudengar, kulihat, tak kuketahui. Semuanya, tidak separuhnya, bukan seperempat atau sepertiga tetapi seluruhnya. Walaupun gaungnya tak riuh, tak gaduh, entah bagaimana aku merasakan ritmenya. Sayup-sayup mendengar melodinya. Karena itu aku ingin terjun ke dalam musiknya, cinta, kasih. Karena cinta adalah mengalami.

Seutuhnya adalah cinta yang sederhana, namun tak putus, kasih yang setia yang tak berkesudahan. Dari mana? Aku tak bisa menunjuk satu sosok, atau wujud tetapi bukan berarti lahir dari ketiadaan, dari spontanitas. Dari Dia, wujud misteri yang menyelimuti bumi, menaungi semesta. Aku percaya Dia kusebut Tuhanku.
Untuk itulah ak menari, untuk merayakan Dia dan perbuatan-Nya, hari jadi-Nya yang seharusnya dirayakan bukan tiap tahun atau musim natal, tetapi di setiap helaan nafas yang kutarik dan kuhembuskan.




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>