sasmita


the meaning of happy
July 31, 2008, 9:26 pm
Filed under: Uncategorized

"Tapi kau bahagia, kan klak?"
Pertanyaan itu terus menganggu, mendesak utk dipikirkan dan dijawab. Mengapa harus bahagia, bukan senang; bukan gembira; bukan sukacita. Coba diartikan dengan level survival bahasa Jepangku: mengapa harus shiawase, bukan yorokobi; bukan tanoshii; bukan ureshii. Kalo bahasa Inggris malah lebih susah. Happy diartikan senang tapi happiness diartikan kebahagiaan. Glad lebih dekat dengan gembira sedangkan joy diterjemahkan menjadi sukacita.

Entah apapun motivasi Andre utk menanyakan pertanyaan itu. Mungkin dia jg memikirkan dalam arti kata bahagia atau mungkin saja dy memakainya secara spontan. Apapun itu, pertanyaan itu berimplikasi dua hal buatku.

Pertama; ketika itu ditanyakan oleh seorang Andre artinya itu ditanyakan oleh seorang teman lawas yg "only God knows" cerita apa saja yg sudah kami bagi bersama. Begitu banyak teman2 dulu yg terhanyut arus waktu, tapi entah kenapa yg satu ini selalu kembali dan kembali seperti dibawa ombak terus menerus ke tepi pantai. Lalu kenangan2 itu terbuka kembali seperti buku usang yg berdebu. Belajar dewasa… fiuuuh itukah yg aku lakukan hingga saat ini. Andrelah saksi matanya (minimal saksi telinga hehehe). Dy seperti monumen pengingat, prasasti dimana semua cerita2 cita, cinta, harapan, luka, tawa, mimpi, diukir. Kata2 aneh pun seperti bercahaya di antara kata2 yg tertulis. Blue, Mojo, Snuffles, Jakarta Undercover, Wanita Malam, The Hobbit, Little Prince, Aragorn, Lembu, Tikus, Pal, MakGon, MakBon, SushiTei, sampai John Rutter; all things bright and beautiful.

Pertanyaan itu menghentak karena datang dari seseorang yg blak-blakan dan pemilihan katanya cenderung peyoratif dengan tingkat estetika sastra yg rendah. Bahagia… apa aku kurang bahagia selama ini menurutmu, Dre? Hingga pertanyaan itu seperti melompat keluar tiba2 dari mulutmu. Pernahkah aku bahagia sepanjang yg kau ingat, Dre?
Pertanyaan itu membuatku tergerak (kandoushita), terharu dan merasa disayangi oleh suatu bentuk perhatian yg sederhana. Aku tahu itu benar sebenar janjinya utk melobi Resti dan Mangantar ketika waktuku tiba.

"Tapi kau bahagiakan, Klak?"
Apa itu bahagia? Kapan aku merasa bahagia? Dengan siapa, karena apa, dan mengapa?
Di dalam declaration of independence-nya US, ada satu poin yg memuat
kata ini. Yaitu hak untuk meraih kebahagiaan -Pursuit of Happiness-. Mengapa harus pursuit? mengapa tidak hak utk berbahagia? Apakah kebahagiaan adalah suatu hal yg hanya didapat dengan usaha dan perjuangan. Atau kita hanya bisa sampai ditahap meraih
tidak mendapatkan?

Karena takut bahwa the meaning of happy versiku udah bercampur aduk dengan versi dunia yang palsu, dalam hati aku bertanya2, seperti apakah arti kebahagiaan bagi orang2 di Alkitab, bagi Yesus, bagi Allah. Apakah Tuhan Yesus selama di bumi merasa bahagia? Kapan dan mengapa? Kalo tidak mengapa? Yesus menyebut beberapa orang berbahagia, tapi apakah Dia sendiri bahagia?

Pencarianku di Alkitab secara singkat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara theologis, akademis mengantarkanku bertemu dengan Lea, Daniel, Ayub, Daud, Salomo, Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Naomi dan Ruth, Ester, Hana, Maria, Petrus, Paulus dan Yesus. Semua memiliki pemikiran ttg kebahagiaan. Berbahagialah yg rendah hatinya, berbahagialah yang dosanya diampuni, berbahagialah orang yang dihajar Allah dan lain lain. Ayub memuat banyak sekali kata bahagia; tepatnya ratapan ttg kebahagiaan yg lenyap dan dirampas dan kita tahu bagaimana hebatnya penderitaan Ayub. Berbahagia berkaitan erat dengan hubungan dengan Tuhan.

Dari deretan nama2 itu juga terlihat banyaknya tokoh perempuan yg berkaitan dengan kata bahagia di antara sedikit tokoh perempuan yg tercantum di Alkitab. Lea, Hana, Ester, Ruth dan Naomi, Maria. Ester membahagiakan suaminya, rajanya. Lea dan Hana berbahagia karena terlepas dari tekanan ejekan dan karena rahimnya dibuka oleh Allah, Naomi berusaha membuat Ruth bahagia dengan mencarikan seorang suami utk menantunya dan Maria… ah semua tahu dy berbahagia karena kehendak Tuhan yg agung terjadi melalui dia secara langsung.
Dari deretan nama2 itu ada 4 orang yg mengklaim dirinya bahagia: Lea, Hana, Maria, dan Petrus. Mengapa dari 4 orang, 3 orang wanita? Mengapa hanya sedikit tokoh Alkitab mengklaim dirinya bahagia? Mengapa ketiga wanita yg menyebut dirinya ini berbahagia semuanya berhubungan dengan kelahiran seorang anak? Inikah kebahagiaan wanita? Atau apakah karena dgn melakukan sesuatu yg hanya dimiliki perempuan secara hakiki berarti melakukan kehendak Tuhan dalam hidup; alat rencana Allah dan dengan begitu merasa dirinya berbahagia.

Sejujurnya aku makin bingung…. hehehe. Bahagia oh bahagia…