sasmita


Ode to Galaksi
September 20, 2008, 9:39 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , ,

Hari ini saya baru saja mengadakan perpisahan dengan teman-teman PA saya. Berbagai perasaan campur jadi satu. Memandangi wajah teman-teman saya satu per satu secara tidak sadar saya melakukan sedikit kilas balik perjalanan hidup dan sedikit demi sedikit ingatan akan teman-teman lawas itu hadir kembali. Yang hadir saat ini adalah teman-teman yg membuat saya menyesal hingga hari ini.
Yang pertama bernama Galaksi Bima Sakti. Ya… teman saya ini bernama persis tata surya yg kita diami ini. Anaknya kecil dan kurus, hitam dan dekil. Dia berasal dari keluarga yang miskin dan hancur. Dimarahi, diledek, dijauhi karena semua takut padanya. Kakaknya bahkan lebih menakutkan dari pada Galaksi.  Teman-teman yang dulu memperingati saya. “Eh, kau jangan mau dekat- dekat sama Galaksi. Dia itu bandal kali, abangnya aja katanya suka nyuri. Bapaknya pun katanya pencuri” Maklum dulu saya anak pindahan. Guru-guru pun selalu menganggap dia anak yang bermasalah dan alhasil dia selalu berada di urutan bawah ranking kelas

Jadilah saya dan Galaksi hampir tidak pernah bertegur sapa dan berbicara. Hal ini berlanjut hingga di kelas 4. Sewaktu kami di kelas 4, secara umum seluruh kelas mengalami suatu transformasi yang cukup besar, dan tentu saja Galaksi. Ada seorang guru baru yang mengajar kami di caturwulan kedua. Pak Sagala namanya. Orangnya tua dan beruban, perokok, suaranya serak serak seram dan memang menyeramkan. Hari pertama dia meminta sekretaris kelas menyiapkan tali plastik yg cukup keras sekitar 40 cm sebanyak dua buah. Olala… ternyata itulah senjata ampuh Pak Sagala. Saya ingat jelas tali itu berwarna oranye akhirnya dikenal dengan nama cambuk. Dengan cambuk ini Pak Sagala menghukum setiap anak yang nakal dan yang gagal mendapatkan angka 9 atau 10. Bayangkan betapa takut dan ciutnya nyali kami saat itu. Saya cukup beruntung karena saya tergolong pintar (zaman SD maaah…) karena itu hanya dua kali pedasnya cambukan Pak Sagala mendarat di betis saya.

Namun yang menarik dari beliau adalah perhatiannya pada Galaksi. Seorang anak yang tak pernah sekalipun diperhatikan oleh guru-guru yang lain. Saya tak pernah tahu mengapa dan bagaimana tiba-tiba Galaksi mendapat perhatian lebih. Pak Sagala acap kali berkata di depan kelas bahwa Galaksi anak yang pintar, yang bisa menyelesaikan soal matematika sulit dengan cepat, yang otaknya brillian seperti Habibie dan semacamnya. Uniknya saya yg cepat jealous dengan orang lain tak pernah merasa iri atau terancam dengan Galaksi. Bukan karena saya yakin dia tidak akan mampu menyaingi saya tapi karena saya tiba-tiba melihat Galaksi yang berbeda dari sebelumnya dari Galaksi yang muram, dekil dan bermasalah. berubah jadi anak yang menyenangkan, percaya diri, bersemangat, terbuka dan lebih sering senyum dan entah kenapa saya senaaaaaaaang sekali melihat dia yang seperti itu. Rasanya kadang saya ke sekolah dengan semangat ingin melihat Galaksi yang sudah berubah. Saya ingat sewaktu pembagian rapor seluruh kelas terpana melihat ranking Galaksi melompat dari peringkat 52 menjadi 13. Semua terpukau dan sejak saat itu pun sebagian teman kelas berubah menjadi lebih bersahabat walaupun tak sedikit yang merasa cemburu dan tersaingi.

Semua berjalan lancar hingga akhirnya di kelas enam keadaan berubah buat Galaksi. Dia mulai sering alpa sekolah. Nilai-nilainya melorot dan wajahnya kembali letih dan muram. Kelas enam caturwulan kedua ada kejadian yang mengejutkan bagi saya dan sungguh sangat membekas hingga sekarang. Kompleks rumah saya itu (yang hingga hari ini saya diami) selain bagian yang menghadap jalan dikelilingi sungai. Di seberang sungai bagian kiri komplek rumah Cengkeh dan Galaksi serta beberapa teman sekelas tinggal di situ. Suatu hari sekitar jam 7 menjelang maghrib tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah. Saya membuka pintu dan di situlah dia, Galaksi dengan setengah badan dari pinggang ke bawah basah kuyup, mengintip masuk ke dalam rumah saya.  “Heh Aci… kok…” hanya kata itu yang muncul dari mulut saya. “Boleh nyalin soal pe-er kemaren-kemaren ga?” jawabnya. Masih setengah tidak percaya saya mengangguk dan dengan cepat mengambil pe-er saya. Ibu saya dengan segera mengambil handuk dan menyuguhkan teh hangat. Dengan malu-malu dia menolak handuknya. “Ga papa tante, ntar juga basah lagi” jawabnya. Ya dia menyeberangi sungai untuk datang ke rumah saya dan menyalin pe-er.

Mengapa harus rumah saya… dan mengapa harus lewat sungai. Ada beberapa rumah teman yang sekomplek dengan rumahnya. Saya terlalu bangga untuk bertanya mengapa. Alasan yang terpikir hingga saat ini adalah karena dulu saya duduk di dekat tempat duduk di sewaktu kelas empat dan beberapa kali sempat berujar “Ayo Aci… pasti bisa ngerjain soal ini” atau “Aciii kereenn… pintar” dan semacamnya. Mungkin…

Tapi segera setelah itu Galaksi menghilang lagi terutama saat les sore yang disediakan guru. Pertemuan kedua saya yang membekas dengan Galaksi adalah ketika sepulang dari les. Saya bertemu dia dalam perjalanan menuju rumah sedang mendayung BPB (Becak Pengangkut Barang) berisi jerigen-jerigen minyak tanah. Saya tersentak dan sedih. Pemandangan itu sampai sekarang membekas di benak saya bahkan saya ingat saya memakai baju berwarna kuning muda saat itu. Tubuh kecih kurus dan ringkih seperti itu mendayung becak yang jauh jauh lebih besar dan berat dari dirinya di saat semua temannya dengan tekun belajar mempersiapkan diri untuk EBTANAS. “Aciii… kok ga les hari ini, kemaren-kemaren juga” saya bertanya spontan. “Psst jangan bilang siapa-siapa yah kalo aku kerja kek gini …” Rupanya dia malu…

Galaksi lulus SD dan berlanjut di sebuah SMP yang entah bagaimana kualitasnya. Kekurangan biaya dan orang tua yang tidak bertanggungjawab memaksa dia bekerja dari usia kecil. Saya prihatin sekaligus menyesal. Mengapa dulu saya tidak melakukan sesuatu… mengapa dulu saya tidak dari awal bersahabat dengan dia… mengapa dulu saya tidak melaporkan ke guru tentang dia yang bekerja… mengapa saya tidak melakukan sesuatu. Ingatan ketika dia dengan basah kuyup datang ke rumah hanya untuk menyalin pe-er mengintimidasi saya. Dia begitu bersemangat belajar… dia menemukan arti dirinya pada akhirnya di tumpukan angka-angka matematika itu. Baru saja dia terangkat dan merasa berharga, bernilai… dan ah baru saja saya melihat binar mata itu dan merasakan semangat itu. Mengapa begitu cepat dia harus berhadapan dengan realita hidup dan lagi…lagi… I should have done something… I could have done something!!! He could have been someone now!!!

Dimana dia, saya tak pernah tahu. Kabar terakhir yang saya tahu dia berhenti sekolah untuk bekerja entah dimana. Bukan karena saya tak bisa cari tahu tapi karena saya tidak ingin mengetahuinya, saya terlalu pengecut untuk menerima kenyataan yang terburuk dari seorang sahabat saya itu. Sekarang inilah penyesalan terbesar saya…Mengapa tak mencari tahu dari dulu… Mengapa tak perhatian dari dulu… Mengapa saya begitu pengecut… Mungkin dulu belum terlambat untuk melakukan sesuatu buat dia… Dan ah… sampai saat ini sejujurnya saya masih takut untuk melihat Galaksi terpuruk… teman saya yang brilian itu.

Galaksi Bima Sakti tempat bumi bernaung dengan keberadaannya, sistemnya, keteraturannya dan presisinya terus menampung lebih dari enam miliar penduduk bumi. Galaksi Bima Sakti sahabat kecilku dengan semua asa dan lika-liku hidupnya sekarang entah berada di mana di rimba Galaksi Bima Sakti yang akbar.




2 Comments so far
Leave a comment

This is beautiful. I’m speechless..

   Sammy 09.21.08 @ 6:56 am

Thanks 4 reading Pak. Saya percaya Tuhan pemilik Galaksi Bima Sakti menjaga Galaksi Bima Sakti kecil.

   Clara 09.21.08 @ 7:35 pm



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>