sasmita


Guilt
December 23, 2008, 3:16 am
Filed under: Uncategorized

pernah merasa ga bisa menulis selain one very topic?

that’s what i feel now

Guilt

rasa bersalah, satu lagi dimensi perasaan manusia yang punya efek destruksi yang besar. Dia melingkupimu dengan hebatnya dan merasuk tulangmu, menghancurkan semua sendi tubuhmu. Rasa bersalah yang dahsyat membuatmu tak bisa memaafkan diri sendiri meskipun kau tau kau sudah dimaafkan. Jadi sebenarnya kau bersalah kepada siapa?

Manusia dengan segala egonya berusaha mengkalkulasikan bahkan hal-hal yang tak perlu dikalkulasikan. Ego dan pride mendorong manusia untuk merumuskan postulat bodoh kepantasan. Berapa sering kita berkata,”Pantas saja dia kan seperti…” atau “Dia itu sama sekali ga pantas buat jabatan itu” atau “Enak aja dia gituin aku. Emang aku pantas…” atau lebih sederhana,” Kita kan udah bayar… Masa pelayanannya seperti ini!!” dan pantas pantas yang lain.

Setiap hari kita mengusahakan tubuh dan pikiran kita untuk menjadi pantas. Pantas untuk indeks prestasi tinggi, pantas untuk pasangan yang berkualitas yang bisa main biola dan bola, pantas untuk pekerjaan dan perlakuan yang sepantasnya (mengulang kata pantas). Kita ribut dan jengkel ketika kita menganggap orang lain tidak memperlakukan kita dengan sepantasnya apalagi kalo misalnya kita punya sumber daya uang, kecantikan, kuasa, posisi, kecerdasan apapun bentuknya. Kita sewot ketika seseorang yang kita anggap tidak pantas mendapatkan hal yang baik.

Ketika saya bergumul dengan rasa bersalah saya semakin merenungkan kenapa saya sulit mengampuni diri sendiri. Mungkin jawabannya karena saya merasa tidak pantas diampuni. Saya ingin merasa pantas diampuni baru saya bisa menerimanya. Saya harus sejajar dengan orang mengampuni saya, saya harus punya sumber daya yang membuat saya memang pantas dimaafkan. Hasilnya saya berusaha sekuat tenaga mencari pembenaran kesalahan saya, atau lebih buruk saya menghukum diri saya sendiri sehingga saya pantas dimaafkan.

Pantaskah saya dimaafkan? Sejauh apapun saya mencari dan berjuang jawabannya tetap saja: TIDAK. Saya memang tidak pantas dimaafkan. Karena itulah disebut dimaafkan. Ada jurang antara yang dimaafkan dan si pemberi maaf dan hanya bisa dijembatani ketika si pemberi maaf mengulurkan tangannya dan yang dimaafkan menjawab dengan menerima uluran itu (atau sebaliknya). Tentu ada ketimpangan di sini tapi itulah… yang tak pantas mendapatkan hal yang baik. Di sini si penerima butuh kerendahan hati bukan hanya si pemberi.

Sekali lagi merenungkannya… saya berpikir dalam sepanjang kehidupan saya sebenarnya hal apa yang benar-benar pantas saya terima? I deserve nothing more than I get rather true, I deserve less indeed. Saya yang tak pantas mendapatkan maaf semudah itu pada kenyataannya diberi maaf. Sebelum saya menyadari bahwa tak ada yang bisa saya lakukan untuk membuat diri saya pantas menerima maaf saya tidak akan bisa mengampuni diri sendiri. Tidak ada usaha yang bisa… tidak akan ada.

Karena jika semua dihitung dengan kepantasan saya…

I earn not my life nor deserve it…



Karma
December 21, 2008, 4:21 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

Kemarin seorang kawan bertanya percayakah aku karma?

Secara awam karma bisa diartikan setiap perbuatan akan kembali ke pada si empunya. Jadi perbuatan jahatmu akan kembali ke kamu lagi begitu pun perbuatan baik. Kalo pernah mencuri pasti nanti bakal kecurian.

Jawabanku adalah aku berusaha untuk tidak percaya karma. Aku percaya apa yang ditabur itu yang dituai.

Apa bedanya?

Dalam karma kau mendapatkan kembali apa yang kau lempar ke luar. What goes around comes around. That plain, that simple. Sedang yang kupercaya cukup berbeda. Aku menabur benih mangga yang kutuai tentunya buah mangga.

Aku percaya ketika aku menabur sesuatu yang buruk aku  kemungkinan besar akan menuai hasil yang buruk.  Tapi aku menolak percaya itu sebuah hukuman Tuhan yang selalu pasti dan saklak.

Aku juga percaya kalo tiap manusia adalah petani, tak ada yang akan menabur ilalang. Katanya hanya untuk dibakar, ilalang itu. Beberapa akan menabur padi, apel, mangga, alpukat. Apapun yang berguna untuk kehidupan. Hanya tak selamanya petani-petani ini mencurahkan hatinya. Kita membiarkan benih itu membusuk dulu baru kita menanamnya. Kita biarkan dia mengering dan meradang hingga kita tergerak menimbunnya. Kita tanam di tempat yang gersang tak diperhatikan, tak dicurahkan kasih.

Aku ingat aku pernah menyakiti seseorang (sering sebenarnya and who didn’t anyway??). Aku belum menyaksikan hidupku seluruhnya untuk tahu apakah aku akan disakiti persis seperti aku menyakiti. Tapi aku telah menuai. Menuai perasaan bersalah. Overwhelming guilty.

Aku tak bisa katakan lebih baik disakiti seperti aku menyakiti daripada dikuasai rasa bersalah. Aku tak tahu sampai itu. Hanya aku tahu rasa bersalah punya dimensi buruk yang lain. Tak sanggup mengampuni diri sendiri adalah perasaan yang paling menyiksa yang pernah kualami.

Ketika kita menabur sesuatu, kita menuai sesuatu. Hanya kita tidak sendiri, benih itu pun tidak sendiri, ada ibu bumi yang merawatnya, langit yang menaunginya, hujan yang memandikannya, dan ada ilalang-ilalang, ada hama yang menginterupsi geliatnya. Maka ada cerita seorang petani yang menanam benih tidak unggul mendapat hasil gemilang dan sebaliknya menanam benih yang dijagokan malahan pulang dengan sedikit berkas.

As for me…

Aku masih akan menuai yang kutabur tadi. Aku percaya belum semua… (Aku tidak menabur pisang soalnya). Akan ada waktu-waktu aku masih harus memanen. Sekarang tergantung diriku, kemurahan Tuhan. Dia bekerja ketika aku mempercayakan benihku padanya. Sekalipun itu benih yang buruk.



kill the rose
December 21, 2008, 3:36 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

kill the rose

I was there
changing my skin
thought i’ve thrown away all the dirt
but oh good earth
i am still much filth now and then
the oxygen stab me
straight to the deepest of my wounded soul
i was there, naked
with my foolish rage
insufficient to cover my shame
though,
i stood and still i breathe and still i run
i run and run and run
to find the rose and kill it
oh good Lord
i’m killing myself

“I have been silly,” she said to him, at last. “I ask your forgiveness. Try to be happy…”

“Of course I love you,” the flower said to him. “It is my fault that you have not known it all the while. That is of no importance. But you — you have been just as foolish as I. Try to be happy… let the glass globe be. I don’t want it any more.”
“Don’t linger like this. You have decided to go away. Now go!”
For she did not want him to see her crying. She was such a proud flower…