Filed under: Uncategorized
pernah merasa ga bisa menulis selain one very topic?
that’s what i feel now
Guilt
rasa bersalah, satu lagi dimensi perasaan manusia yang punya efek destruksi yang besar. Dia melingkupimu dengan hebatnya dan merasuk tulangmu, menghancurkan semua sendi tubuhmu. Rasa bersalah yang dahsyat membuatmu tak bisa memaafkan diri sendiri meskipun kau tau kau sudah dimaafkan. Jadi sebenarnya kau bersalah kepada siapa?
Manusia dengan segala egonya berusaha mengkalkulasikan bahkan hal-hal yang tak perlu dikalkulasikan. Ego dan pride mendorong manusia untuk merumuskan postulat bodoh kepantasan. Berapa sering kita berkata,”Pantas saja dia kan seperti…” atau “Dia itu sama sekali ga pantas buat jabatan itu” atau “Enak aja dia gituin aku. Emang aku pantas…” atau lebih sederhana,” Kita kan udah bayar… Masa pelayanannya seperti ini!!” dan pantas pantas yang lain.
Setiap hari kita mengusahakan tubuh dan pikiran kita untuk menjadi pantas. Pantas untuk indeks prestasi tinggi, pantas untuk pasangan yang berkualitas yang bisa main biola dan bola, pantas untuk pekerjaan dan perlakuan yang sepantasnya (mengulang kata pantas). Kita ribut dan jengkel ketika kita menganggap orang lain tidak memperlakukan kita dengan sepantasnya apalagi kalo misalnya kita punya sumber daya uang, kecantikan, kuasa, posisi, kecerdasan apapun bentuknya. Kita sewot ketika seseorang yang kita anggap tidak pantas mendapatkan hal yang baik.
Ketika saya bergumul dengan rasa bersalah saya semakin merenungkan kenapa saya sulit mengampuni diri sendiri. Mungkin jawabannya karena saya merasa tidak pantas diampuni. Saya ingin merasa pantas diampuni baru saya bisa menerimanya. Saya harus sejajar dengan orang mengampuni saya, saya harus punya sumber daya yang membuat saya memang pantas dimaafkan. Hasilnya saya berusaha sekuat tenaga mencari pembenaran kesalahan saya, atau lebih buruk saya menghukum diri saya sendiri sehingga saya pantas dimaafkan.
Pantaskah saya dimaafkan? Sejauh apapun saya mencari dan berjuang jawabannya tetap saja: TIDAK. Saya memang tidak pantas dimaafkan. Karena itulah disebut dimaafkan. Ada jurang antara yang dimaafkan dan si pemberi maaf dan hanya bisa dijembatani ketika si pemberi maaf mengulurkan tangannya dan yang dimaafkan menjawab dengan menerima uluran itu (atau sebaliknya). Tentu ada ketimpangan di sini tapi itulah… yang tak pantas mendapatkan hal yang baik. Di sini si penerima butuh kerendahan hati bukan hanya si pemberi.
Sekali lagi merenungkannya… saya berpikir dalam sepanjang kehidupan saya sebenarnya hal apa yang benar-benar pantas saya terima? I deserve nothing more than I get rather true, I deserve less indeed. Saya yang tak pantas mendapatkan maaf semudah itu pada kenyataannya diberi maaf. Sebelum saya menyadari bahwa tak ada yang bisa saya lakukan untuk membuat diri saya pantas menerima maaf saya tidak akan bisa mengampuni diri sendiri. Tidak ada usaha yang bisa… tidak akan ada.
Karena jika semua dihitung dengan kepantasan saya…
I earn not my life nor deserve it…
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>