Kemarin seorang kawan bertanya percayakah aku karma?
Secara awam karma bisa diartikan setiap perbuatan akan kembali ke pada si empunya. Jadi perbuatan jahatmu akan kembali ke kamu lagi begitu pun perbuatan baik. Kalo pernah mencuri pasti nanti bakal kecurian.
Jawabanku adalah aku berusaha untuk tidak percaya karma. Aku percaya apa yang ditabur itu yang dituai.
Apa bedanya?
Dalam karma kau mendapatkan kembali apa yang kau lempar ke luar. What goes around comes around. That plain, that simple. Sedang yang kupercaya cukup berbeda. Aku menabur benih mangga yang kutuai tentunya buah mangga.
Aku percaya ketika aku menabur sesuatu yang buruk aku kemungkinan besar akan menuai hasil yang buruk. Tapi aku menolak percaya itu sebuah hukuman Tuhan yang selalu pasti dan saklak.
Aku juga percaya kalo tiap manusia adalah petani, tak ada yang akan menabur ilalang. Katanya hanya untuk dibakar, ilalang itu. Beberapa akan menabur padi, apel, mangga, alpukat. Apapun yang berguna untuk kehidupan. Hanya tak selamanya petani-petani ini mencurahkan hatinya. Kita membiarkan benih itu membusuk dulu baru kita menanamnya. Kita biarkan dia mengering dan meradang hingga kita tergerak menimbunnya. Kita tanam di tempat yang gersang tak diperhatikan, tak dicurahkan kasih.
Aku ingat aku pernah menyakiti seseorang (sering sebenarnya and who didn’t anyway??). Aku belum menyaksikan hidupku seluruhnya untuk tahu apakah aku akan disakiti persis seperti aku menyakiti. Tapi aku telah menuai. Menuai perasaan bersalah. Overwhelming guilty.
Aku tak bisa katakan lebih baik disakiti seperti aku menyakiti daripada dikuasai rasa bersalah. Aku tak tahu sampai itu. Hanya aku tahu rasa bersalah punya dimensi buruk yang lain. Tak sanggup mengampuni diri sendiri adalah perasaan yang paling menyiksa yang pernah kualami.
Ketika kita menabur sesuatu, kita menuai sesuatu. Hanya kita tidak sendiri, benih itu pun tidak sendiri, ada ibu bumi yang merawatnya, langit yang menaunginya, hujan yang memandikannya, dan ada ilalang-ilalang, ada hama yang menginterupsi geliatnya. Maka ada cerita seorang petani yang menanam benih tidak unggul mendapat hasil gemilang dan sebaliknya menanam benih yang dijagokan malahan pulang dengan sedikit berkas.
As for me…
Aku masih akan menuai yang kutabur tadi. Aku percaya belum semua… (Aku tidak menabur pisang soalnya). Akan ada waktu-waktu aku masih harus memanen. Sekarang tergantung diriku, kemurahan Tuhan. Dia bekerja ketika aku mempercayakan benihku padanya. Sekalipun itu benih yang buruk.
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>